Sign Allday Daikanyama

Restoran terjangkau di tengah area kekinian Tokyo

Oleh Vicky Amin   

Berjalan menelusuri Daikanyama, saya benar-benar merasa seperti berada di sisi lain dari Tokyo. Tidak berisik, tidak berbinar-binar dengan lampu-lampu neonnya, dan tidak lekat dengan sentuhan tradisional. Bahkan, saya sempat berpikir bahwa saya memang tidak sedang berada di ibukota Jepang! Area trendy ini memancarkan nuansa Brooklyn yang sangat kental, di mana ketika saya masuk ke tengah-tengahnya, saya tahu persis jenis budaya apa akan saya temukan di sana: anak-anak kekinian, toko-toko unik, barbershop, kedai kopi minimalis, dan resto-resto vegan. Dan benar saja, saya menemukan semuanya -- termasuk yang paling berkesan, adalah sebuah restoran yang menurut saya benar-benar merangkum segala karakteristik Daikanyama. Namanya Sign Allday.

Berlokasi di penghujung rute jalan kaki yang saya tempuh dari Stasiun Shibuya, Sign Allday seperti menjadi penutup pamungkas dari kunjungan saya. Sebuah temuan yang menggambarkan dengan akurat sebuah area santai bernama Daikanyama. Saya tidak tahu menahu soal tempat ini, tapi orang-orang yang duduk di bagian depan restoran, berbincang santai dengan sahabat sambil menikmati apapun yang diantarkan dari dalam, membuat saya tertarik untuk turut mencicipinya. Tempatnya berada di sisi sebuah jalan besar, dan berjarak hanya selemparan batu dari Stasiun Daikanyama. Meski demikian, ketika memasuki bangunan restorannya yang minimalis, dan musik chill seketika mengisi telinga, atmosfer super santai langsung melingkupi saya.

Sofa-sofa dan tempat duduk nyaman mengisi tiap sudut restoran yang sebenarnya tidak terlalu besar itu. Dominasi warna-warna pastel dan putih menambah kesan santai dari restoran ini. Area ruang makannya bersinggungan langsung dengan dapur dan bar, sehingga suara-suara khas alat makan serta mesin pembuat kopi akan menjadi sentuhan yang membuat kunjungan semakin terkesan homey. Ditambah dengan jendela-jendela besar di setiap sisi tembok, datang ke sini seorang diri pun (seperti yang saya lakukan) sama sekali tidak terasa membosankan.

Dengan atmosfer yang begitu sempurna, orang-orang mungkin akan menganggap makan atau nongkron di sini akan merogoh kocek yang cukup dalam. Nyatanya? Tidak sama sekali! Saya pun terkejut kala melihat daftar menunya yang sangat terjangkau. Saya lantas berpikir bahwa dengan harga makanan mulai dari ¥1,000 - 2,000 (kalau malam atau sedang ramai bisa mencapai paling mahal ¥3,000), mungkin porsi yang disajikan akan sedikit. Nyatanya? Lagi-lagi tidak! Menu nasi ayam lengkap dengan salad dan kentang tumbuk yang saya pesan (yang bahkan hanya seharga ¥900) berukuran cukup besar, cocok untuk saya yang mudah lapar. Menu-menu lain yang bisa ditemukan di sini meliputi salad dan menu vegan lainnya (yang begitu identik dengan Daikanyama), masakan ala Hawaii, omurice, hingga beragam pilihan roti dan kue.

Keterkejutan saya tak hanya sampai situ. Menu minuman yang ditawarkan pun sama terjangkaunya, mulai dari hanya ¥100 saja untuk teh atau kopi. Itu belum termasuk promo happy hour yang menawarkan beragam minuman seperti bir, anggur, dan koktail seharga ¥300 saja! Harga yang terlalu terjangkau untuk ukuran Tokyo, karena bahkan lebih murah dari tempat saya berasal!

Tanpa harganya yang secara mengejutkan sangat murah itu pun, sebenarnya kunjungan ke Sign Allday sudah sangat berkesan buat saya. Atmosfernya yang begitu santai benar-benar berbanding terbalik dengan bisingnya Tokyo, sehingga kalau harus membayar lebih mahal pun, saya sangat rela!

Cara ke sana

Sign Allday hanya berjarak 2 menit jalan kaki dari Stasiun Daikanyama.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Vicky Amin

Vicky Amin @vicky.amin632

A traveler, budding travel writer, and amateur author. Writing is my way to redo my amazing journey all over again. I started "Cheating the World" project and with it, I've made two of my annual trips in a form of a book: "Cheating Southern Vietnam", and "Cheating Hong Kong & Macau" (still in Bahasa Indonesia, sorry...). Japan? Of course it's on top of my writing list. It was too good to not be recorded.

Tinggalkan komentar