Pokemon Cafe Tokyo

Bersantap ala Pokemon Master

Oleh Vicky Amin   

Notice

Temporarily closed as part of nationwide coronavirus measures. 

Latest on Pokemon Cafe Nihonbashi

Jepang sangat terkenal dengan atraksi themed cafe-nya: ada yang bertema pelayan ala maid cafe atau butler cafe, ada yang bertema robot, ada pula yang bertema tokoh kartun spesifik. Semuanya menarik, semuanya menawarkan pengalaman yang unik. Tapi tentu saja yang memiliki atensi terbesar adalah kafe-kafe bertema film atau anime yang memang berasal dari Jepang, terutama yang sudah menjadi sahabat bagi para penggemarnya selama bertahun-tahun. Salah satu yang paling fenomenal adalah Pokemon Cafe.

Saya sudah menjadi penggemar dari Pokemon sejak generasi pertama. Mulai dari game-nya, anime-nya, film pertamanya, semua saya lahap! Karenanya ketika saya berkesempatan berwisata ke Jepang untuk pertama kalinya, saya mendatangi sebanyak mungkin Pokemon Center (toko resmi Pokemon) yang saya bisa, untuk melihat (dan membeli) apapun yang berbau Pokemon. Sayangnya, saat itu Pokemon Cafe masih jauh dari rencana untuk buka.

Sebenarnya agak sedikit aneh bahwa meski sudah sangat populer di seluruh dunia, dengan usianya yang sudah hampir mencapai seperempat abad, dan dengan toko resmi yang tersebar di mana-mana, barulah pada awal tahun 2018 waralaba Pokemon secara resmi memiliki kafe bertema sendiri di tanah kelahirannya. Kehadirannya padahal sudah sangat dinanti-nanti, sehingga tak heran kalau orang-orang pun begitu antusias menyambut pembukaan kafe ini—termasuk saya, yang segera setelah tahu kalau Pokemon Cafe baru saja dibuka di Tokyo, tanpa berpikir panjang saya langsung memasukkannya ke dalam daftar to-do saya untuk kunjungan kedua saya ke Jepang.

Hari yang dinanti pun tiba. Saya tidak bohong kalau saya berkata bahwa saat itu saya kembali menjadi seperti anak kecil yang kegirangan karena diajak orangtuanya pergi ke taman ria. Saya benar-benar merasakan itu ketika saya tiba di Tokyo Station dan berjalan kaki mendatangi Pokemon Cafe, menaiki lift ke lantai 5 dan sebuah area putih modern besar dengan patung-patung Pokemon menyambut saya. Saya masih harus menunggu sekitar 15 menit karena saat itu belum memasuki slot waktu yang saya daftarkan.

Ya, untuk mengunjungi Pokemon Cafe, pengunjung harus melakukan reservasi secara online dan memilih jadwal yang tersedia. Ini sebenarnya sangat nyaman karena pengunjung jadi tahu kapan harus masuk dan tidak harus menunggu tanpa kepastian. Tapi kabar buruknya, calon pengunjung harus berebut tempat agar bisa masuk ke Pokemon Cafe (dan melihat antusiasme masyarakat dan turis yang begitu menggemari Pokemon, tempat duduk di kafe ini bisa cepat habis sehingga pertarungan memperebutkan slot pun bisa jadi sangat sengit).

Akhirnya saya dipanggil masuk. Atmosfer yang begitu penuh semangat dan keriaan langsung melingkupi saya yang kini makin senang tidak karuan. Para staf kafe sangat ramah dan enerjik, seirama dengan dekorasi kafe yang penuh warna dan penuh... Pokemon! Saya kegirangan melihat semua Pokemon favorit saya dalam wujud gambar-gambar, boneka-boneka, dan bahkan patung-patung sesuai ukuran asli mereka! Ruangan kafenya itu sendiri sangat luas, dengan elemen kayu yang membuat suasana makin hangat, dan meja-meja di tiap sudut. Karena datang seorang diri, saya ditempatkan di meja kayu besar yang terletak di tengah-tengah kafe, bergabung dengan pengunjung lain yang juga datang sendiri atau berdua.

Sebagai kafe bertema Pokemon, tentu saja makanan dan minuman yang disajikan pun berhiaskan segala hal berbau Pokemon. Beberapa menu reguler yang bisa Anda pilih antara lain nasi kare Pikachu, salad Snorlax, pancake Jigglypuff, dan masih banyak lagi! Lalu untuk minumannya, ada pilihan susu, teh, dan kopi, latte Eevee, serta float beragam warna nyentrik yang menghadirkan tiga Pokemon burung legendaris Articuno (Freezer Float yang berwarna biru), Zapdos (Thunder Float yang berwarna kuning), dan Moltres (Fire Float yang berwarna merah). Selain menu-menu standar itu, Pokemon Cafe juga sering mengeluarkan beragam pilihan menu spesial seperti ketika Valentine dan Halloween (saya datang pada saat ini, dan memesan smoothie Gengar!), atau ketika Pokemon memasuki generasi berikutnya dengan memperkenalkan rangkaian Pokemon terbaru. Menu-menu ini hadir dengan harga yang beragam, mulai dari ¥1,600 untuk makanan dan ¥660 untuk minuman.

Ketika saya merasa sudah sangat puas dengan semua jamuan yang diberikan, ternyata Pokemon Cafe masih menyimpan satu suguhan yang membuat saya makin gembira: seekor Eevee besar datang dari bagian belakang kafe untuk menyambut para pengunjung! Badut menggemaskan itu datang bersama seorang staf ceria yang membuat suasana semakin semarak. Satu kafe langsung dibuat panik karena kami diberi kesempatan untuk menyapa Eevee dan mengambil beberapa foto. Ketika saya bertanya kepada salah satu staf, Pokemon Cafe Tokyo memang memiliki dua ekor Pokemon (selain Eevee, tentu saja yang satu lagi adalah sang bintang, Pikachu!) yang akan keluar pada saat-saat tertentu—beruntung sekali saya hadir pada saat yang tepat!

Untuk membuat pengalaman pengunjung semakin kaya dan lengkap, Pokemon Cafe Tokyo juga memiliki beragam pilihan merchandise bertema kuliner yang hanya dapat ditemukan di kafe itu, seperti boneka Pikachu yang mengenakan kostum koki, piring Snorlax, dan cangkir berbentuk Pokeball. Sebagian merchandise itu dipajang di dalam lemari kaya yang juga menjadi dekorasi yang menarik di dalam ruangan kafe. Kalau masih belum puas dengan itu semua, Pokemon Cafe Tokyo berbagi lokasi dengan salah satu toko resmi Pokemon yang bernama Pokémon Center DX di mana Anda bisa segera langsung berbelanja setelah selesai makan.

Cara ke sana

Pokemon Cafe berlokasi di lantai 5 department store Takashimaya, yang berjarak hanya sekitar 4 menit jalan kaki dari Stasiun Nihombashi, atau 10 menit jalan kaki dari pintu keluar Yaesu Stasiun Tokyo.

More info

Cari tahu tentang Pokemon Cafe Nihonbashi

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Vicky Amin

Vicky Amin @vicky.amin632

A traveler, budding travel writer, and amateur author. Writing is my way to redo my amazing journey all over again. I started "Cheating the World" project and with it, I've made two of my annual trips in a form of a book: "Cheating Southern Vietnam", and "Cheating Hong Kong & Macau" (still in Bahasa Indonesia, sorry...). Japan? Of course it's on top of my writing list. It was too good to not be recorded.

Tinggalkan komentar