Izakaya Robata, Pasar Ikan Oshu

Hidangan laut & minuman, dengan barbekyu tingkat tinggi

Oleh Justin Velgus   

Di kota-kota besar terdapat ribuan bangunan untuk mencari makanan terbaik. Mungkin hanya ratusan yang memberikan santapan lezat dengan harga yang masuk akal. Lalu mungkin hanya lusinan saja di mana Anda bisa berkuliner, dengan pengalaman unik. Izakaya Robata Pasar Ikan Oshu adalah salah satu permata itu (*harap perhatikan bahwa nama ini adalah terjemahan Bahasa Indonesianya yang paling mendekati nama Jepangnya, yakni 奥州魚河岸酒屋 天海のろばた 本店). Terletak di ibu kota Miyagi di dalam bangunan Haabu Sendai lantai 6 (ハーブ仙台6F), restoran ini hanya berjarak lima menit jalan kaki dari Stasiun Sendai West Exit (pintu keluar barat). Di sini, Anda dapat menemukan santapan khas Sendai yang terlupakan.

Izakaya Robata Pasar Ikan Oshu adalah restoran robata (biasa disebut juga dengan robatayaki). Salah satu proses memasak yang mengadopsi gaya ini adalah ketika membakar hidangan laut di atas perapian, dan menyajikannya langsung menggunakan dayung. Ada satu halaman dalam menu restoran (berbahasa Jepang) yang menjelaskan sejarah masakan bergaya robata. Semua bermula di Sendai. Ini sangat mengejutkan bagi sebagian besar orang Jepang karena mereka tidak pernah tahu—bahkan orang Sendai itu sendiri! Ketika orang-orang memikirkan robata, biasanya mereka langsung teringat dengan sebuah kota di Hokkaido dimana gaya ini sangat terkenal namun tidak lahir di kota ini. Gaya memasak ini dikembangkan oleh para nelayan yang kelaparan, namun memiliki peralatan yang terbatas untuk memasak. Mereka lantas membakar hasil tangkapan laut mereka di atas kobaran api, dan saling membagi-bagikan makanannya menggunakan dayung. Cerita dari menu ini menyebutkan bahwa pada tahun 1940an terdapat sekitar 10,000 restoran robata di seluruh penjuru Jepang. Untuk satu alasan, jumlah restoran robata yang otentik (di mana makanannya dimasak dan disajikan tepat di hadapan Anda) sangat sedikit dibandingkan dengan dulu. Mungkin alasannya karena gaya makan orang Jepang yang berubah, atau karena biaya untuk menjalankan robata yang terlalu banyak. Koki di restoran ini pun merasa kadang menyajikan makanan dengan dayung seringkali menyebalkan dan melelahkan. Tapi itu adalah bagian dari pengalamannya. Kalau ia tahu dayung ini adalah alasan utama mengapa Anda datang, ia akan dengan cerewet bercerita banyak soal robata dan bahkan memperbolehkan Anda untuk memegang dayung dan mengambil foto!

Ketika pintu lift terbuka, Anda akan disapa dengan sebuah senyuman yang lebar. Restoran ini sangat hidup dengan pengunjung yang berbincang-bincang, aroma makanan yang dibakar merebak di udara, dan musik Jepang khas pasca-perang didendangkan. Seseorang menyapa dengan menyebut nama saya, karena saya telah melakukan reservasi sebelumnya. Meski saat itu adalah Senin malam, hanya beberapa bangku saja yang kosong, dan bahkan para staf menyebutkan bahwa itu tergolong malam yang tidak begitu sibuk! Ini adalah tempat makan dimana melakukan reservasi adalah sebuah keharusan. Restoran ini memiliki 88 bangku dan dapat menerima tamu di konter, meja, atau karpet tatami untuk rombongan besar. Restoran ini jarang kedatangan tamu orang asing, jadi para pelayan sangat memastikan bahwa saya senantiasa merasa nyaman, sekaligus dengan semangat melatih Bahasa Inggris yang mereka ketahui. Seorang staf sempat meyakinkan saya bahwa saya berasal dari Perancis, saya sendiri tidak tahu kenapa. Mungkin karena ia ingin melatih Bahasa Perancisnya? Saya hanya tertawa saja, lalu memesan minum, dan malam pun mulai terasa menyenangkan.

Karena hanya datang berdua, saya ditempatkan di konter—mungkin ini memang pilihan terbaik kalau Anda belum pernah merasakan robata sebelumnya. Restoran ini memiliki pilihan bir, wine, cocktail, dan sake yang lengkap. Kebanyakan tamunya adalah penduduk setempat dan restoran ini adalah sarang utama mereka. Menu berbahasa Jepang yang diberikan dilapisi sampul kayu, berisi cerita sejarah gaya memasak robata. Menu ini juga tentu saja menjabarkan daftar makanan, namun sayangnya hanya sedikit gambar yang tersedia. Meski demikian, terdapat foto-foto makanan di dinding yang mengiklankan menu-menu terbaik, atau kalau masih belum yakin, sang koki akan dengan senang hati merekomendasikan sesuatu untuk Anda.

Kebanyakan makanan utama di sini menyajikan menu ikan, dan hidangan laut lainnya seperti kerang dengan daging (atau jeroan... nyam nyam nyam!), kebab, dan salad kecil atau kacang edamame. Hidangan utamanya disajikan dalam porsi yang cukup besar. Ditambah dengan makanan pembuka, seharusnya dua orang akan dengan mudah merasa kenyang. Masakan utama memiliki harga sekitar ¥2000 hingga ¥3000. Anda bisa memilih apakah hidangan laut Anda ingin mentah atau dimasak. Saya memilih untuk dimasak agar dapat mencicipi rasa bakar-bakaran khas robata yang terkenal itu. Makanan kami pun disajikan dengan menggunakan dayung. Serupa dengan budaya orang Jepang yang saling menyajikan minuman, saya yakin cara mereka menyajikan makanan dengan intim seperti ini, yang sangat memerlukan keseimbangan dan koordinasi yang baik dari kedua pihak, memperkuat ikatan antara keduanya; dalam hal ini, sang koki dan pelanggannya. Sejak saat itu kami langsung merasa seperti di rumah dan menjadi akrab dengan sang koki meski ia begitu sibuk melayani pesanan lainnya. Masakannya, tentu saja, lezat semua. Ikan yang berair, daging bakar dengan jumlah garam yang cukup, dan salad dengan kesegaran yang sempurna. Kami membasuh tiap gigitan makanan dengan bir dan wine plum, minuman kesukaan saya. Mirip barbekyu di rumah lama saya di Amerika, barbekyu seafood juga disajikan dengan alkohol. Tak masalah, karena stasiun utama hanya berjarak lima menit di ujung jalan.

Untuk makanan utama yang dibagi berdua, salad yang menyenangkan, dan beberapa gelas minuman, Anda mungkin akan mengeluarkan sekitar ¥5000-6000. Ingat selalu, bahwa Anda bukan hanya membayar makanannya saja, tapi juga pelayanan, atmosfer, dan pengalaman budayanya. Meski kini robata tidak begitu terkenal di Sendai, gaya ini lahir di sini dan merupakan bagian kecil dari sejarah kota yang kaya. Jadi, kenapa tidak Anda berhenti sejenak untuk mencicipi salah satu kuliner rahasia terbaik di Sendai?

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Vicky Amin

Vicky Amin @vicky.amin632

A traveler, budding travel writer, and amateur author. Writing is my way to redo my amazing journey all over again. I started "Cheating the World" project and with it, I've made two of my annual trips in a form of a book: "Cheating Southern Vietnam", and "Cheating Hong Kong & Macau" (still in Bahasa Indonesia, sorry...). Japan? Of course it's on top of my writing list. It was too good to not be recorded.

Artikel asli oleh Justin Velgus

Tinggalkan komentar