Shakyo di Kuil Unryuin Kyoto

Meditasi di tempat perlindungan tenang

Oleh Karen Zheng   

‘Shakyo’ berarti berlatih menyalin sutra, yang merupakan hitungan amalan baik dalam agama Budha. Pertama kali dikenalkan di Jepang sebagai latihan keagamaan dalam abad ke-8, Shankyo terus berkembang menjadi bentuk budaya zen saat ini. Kegiatan menyalin sutra dipercaya dapat menyembuhkan penyakit, saat seseorang berkonsentrasi mengerjakan tugas melalui tangannya.

Bertekad untuk berlatih refreksi diri dan kesadaran yang lebih besar, saya menuju kuil Unryuin yang sangat tersembunyi berlokasi di distrik Higashiyama Kyoto. Sepanjang perjalanan menuju ke kuil Budha, tersesat beberapa kali akan tetapi sesampainya di pintu masuk, saya yakin bahwa semua perjalanan tersebut sangat layak.

Terselimuti kehijauan, jalan beton panjang dan sempit terbentang di depan dan memanggil saya terus maju ke depan. saya terpesona dengan panggilan alam dan lingkungan damai. Di sebelah kiri, terdapat patung indah Dewi Kebajikan, menyatu harmoni dengan latar belakang tetapi tetap memperlihatkan suatu bentuk keindahan dalam diam.

Sebagai cabang kuil Sennyu-ji, kuil Unryuin ditugaskan pada akhir abad ke-14 oleh Kaisar periode itu Go-Kogon dimana puncak kerajaan dapat dilihat di berbagai tempat disekitarnya. Dengan kemampuan untuk menanamkan rasa ketenangan, arsitektur berusia-tapi-indah ini pernah sangat disukai oleh keluarga kekaisaran. Sangat mudah untuk memahami mengapa demikian.

Di resepsionis, ragu-ragu mengucapkan kata yang membawa saya ke tanah ini: “shakyo”. Meskipun terdapat hambatan bahasa, wanita baik hati dengan wajah bulat dan senyum indah berhasil membawa saya ke ruang utama tempat menyalin sutra.

Lebih dikenal dengan nama Aula Bunga Naga (Ryogeden), bangunan utama terdaftar sebagai properti budaya penting Jepang. Didekorasi rumit, terdapat kemegahan bersahaja dalam deretan rapi meja rendah dan altar yang menjadi rumah Budha “Yakushi Nyorai”.

Seseorang tidak begitu saja menyalin tanpa henti transkripsi sutra. saya terkejut mengetahui terdapat ritual awal penyucian sebelum shakyo. Entah bagaimana, hal itu membuat pengalaman ini terasa sangat unik. Pertama, saya disajikan dengan toples cengkeh kering dan diminta untuk menjaga sepotong dalam mulut sementara menyalin sutra.

Setelah itu, bagian kecil dupa berbau seperti bubuk kayu manis ditempatkan di tangan. Cipratan air suci di kepala dipercaya untuk menyucikan pikiran dan menandakan dimulainya shakyo. Dengan bagian kecil cengkeh masih berada dalam mulut dan diminta untuk tidak berbicara membuat saya memberi isyarat bahwa tidak ada orang lain di sana. Rupanya, saya pikir wanita tersebut tidak tahu bahwa saya berbicara dengan diri sendiri lebih daripada berbicara dengan orang lain. Mungkin, maksud wanita tadi adalah bahwa saya harus fokus pada tugas di tangan dan menghentikan pikiran malas.

Sutra yang harus saya salin adalah dalam karakter tradisional Cina dan refleksi ‘Sutra Hati’ yang terkenal. Terdiri dari 262 kata, terlihat seperti pekerjaan mudah akan tetapi duduk di tempat yang memiliki waktu tidak terbatas cenderung membuat saya gelisah (saya tahu seharusnya tidak berlaku seperti itu).

Walaupun saya tidak paham seluruhnya apa yang disalin. saya merasa beruntung dapat mampu menangkap garis besar pesan, yang merefleksikan keinginan manusia dan pencerahan. Berdasarkan empat kepercayaan agama Budha, keinginan adalah sumber utama bencana dan dengan menghilangkan keinginan akan membuat seseorang mendapatkan pencerahan sejati dan kebahagaiaan.

Saya tidak dapat mengatakan bahwa telah mendapatkan pencerahan ketika akhirnya selesai menyalin sutra akan tetapi terasa sangat menyenangkan. saya juga mengharapkan teh hijau dan makanan penutup gratis, karena perut saya sudah mulai lapar dan berbunyi cukup kencang.

Sekali lagi, saya diarahkan menuju koridor kecil menurun ke dalam suatu ruangan indah berbeda. Semua ruangan membanggakan pemandangan indah taman yang terletak di luar. Kepahitan teh hijau membuat saya meringis, ketika menggigit bagian kecil makanan penutup manis, terkejut dengan percampuran dan keseimbangan rasanya.

Seperti yin dan yang, semuanya nampak dalam keseimbangan di tempat perlindungan sunyi ini. Suatu perasaan damai tertentu masuk ke dalam diri dan membuat ringan hati sambil melihat keluar pemandangan indah taman. Kemudian, saya memutuskan untuk mengikuti pengunjung lain dan “berpindah ruang”. Di setiap ruang, saya menemukan benda tua dan ketenangan berharga yang langka pada dunia modern dan sibuk yang kita tinggali ini.

Menyajikan pelarian dari kehidupan, kuil Unryuin merupakan sejarah, seni, dan ketenangan yang tetap ada dalam diri sendiri bahkan setelah meninggalkan kuil.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Dian Retno Mayang Sari

Dian Retno Mayang Sari @dian.retno.mayang.sari

My 2nd home country is my-yasashi-yokoso Japan!

Artikel asli oleh Karen Zheng

Tinggalkan komentar