Ramen NON

Spot ramen yang ramah di Kyoto

Oleh Anna van Dyk   

Saya sedikit malu mengakui bahwa ketika sudah berada di Jepang selama dua minggu, baru hari ini saya makan ramen untuk pertama kalinya.

Apakah Anda benar-benar menyalahkan saya? Dengan mencoba mie udon, tempura, dan sushi, saya hampir tidak punya waktu untuk benar-benar mencicipi rasa dari makanan terkenal ini saat sedang melakukan perjalanan! Saya hanya memiliki sedikit waktu luang dalam jadwal tur saya, namun akhirnya saya memutuskan bahwa saya harus punya pengalaman kuliner. Kyoto adalah kota di mana akhirnya saya dapat mencicipi ramen.

Saat sedang berjalan-jalan di area Gion pada sore hari, saya melewati sebuah lubang kecil pada dinding. Terlihat tumpukan sendok pengaduk di sup yang mengepul dan mie yang berkilau warnanya. Seakan-akan tempat ini adalah spot yang menjadi kedai pertama untuk mencoba makanan yang dikeramatkan ini, jadi kemudian saya berbalik dan memutuskan untuk mencobanya. Saya tidak menyesali keputusan saya kemudian. Meskipun ukuran Ramen NON tidak terlalu besar, atau bahkan mungkin terkenal di kalangan wisatawan, namun justru kekurangan itulah yang membuat rasa dan layanannya menjadi lebih. Saya memasuki restoran dengan mengendap-endap dan hati-hati karena tidak tahu pasti tentang etika restoran dan sedikit gugup karena akan mencobanya untuk pertama kali. Bagaimana kalau saya memakannya dengan cara yang salah? Bagaimana kalau saya tidak menyukainya? Bagaimana kalau pemerintah Jepang tahu dan mendeportasi saya karena melakukan kesalahan saat menikmati makanan nasional mereka? Itulah kekhawatiran yang saya rasakan.

Namun seketika itu, staf yang ramah mampu menghilangkan kekhawatiran saya. Saya lalu duduk di konter bangku kayu mahogani untuk memesan salah satu menu mereka. Dengan mahir, sang koki segera membuat pesanan saya yaitu semangkuk ramen dengan kuah kedelai. Mienya dihempaskan ke udara, telurnya direbus, kuahnya disendok dan rumput laut digunakan sebagai pemanis, semuanya hanya dalam hitungan menit. Hasil akhir dari karya seni tersebut dihidangkan dalam sebuah mangkuk yang cukup besar di hadapan saya. Seorang staf yang menyadari ketidaktahuan saya tentang bagaimana cara menyantap makanan ini memberi tahu saya untuk melahap daging babi panggang dan menyeruput mienya. Tidak seorang pun menghela nafas ketika saya membutuhkan garpu untuk memotong telur. Tidak ada seorang pun yang tertawa ketika saya menghirup mie dalam-dalam dan percikan kuah panas mengenai mata saya. Nyatanya, saya mendapatkan sesuatu yang biasa namun pelayanannya luar biasa dan diterima dengan hangat. Ini adalah semangkuk ramen yang mampu membuat saya ketagihan. Saya bersyukur karena masih ada beberapa minggu tersisa sebelum saya meninggalkan Jepang. Bila semua ramen selezat ramen yang saya santap di Ramen NON, besar kemungkinan untuk menyantapnya setiap hari.

Bila Anda sedang berada di area Gion dan sedang mencari sesuatu yang cepat, enak dan murah, mampirlah ke kedai ini. Kedai ini akan membuat Anda memimpikan kuah asin dan daging babi panggang yang lembut berhari-hari!

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Odilia Sindy Okinawati

Odilia Sindy Okinawati @odilia.djoenar

Travel is my soul!

Artikel asli oleh Anna van Dyk

Tinggalkan komentar