Kinkaku-ji

Paviliun Emas dari Rokuon-ji

Oleh Katrina Webber   

Salah satu tempat wisata paling terkenal di seluruh Jepang adalah Paviliun Emas di Rokuon-ji di Kyoto.

Cara termudah untuk sampai ke Kinkaku-ji adalah dengan naik bus. Ada beberapa bus yang akan membawa Anda ke sana (saya sarankan membeli pass bus satu hari. Harganya 500 yen. Dan jika Anda naik bus tiga kali, harganya seharusnya lebih dari itu). Turunlah di halte Kinkaku-ji dan menyeberang ke jalan setapak yang menuju ke daerah Rokuon-ji.

Berhentilah tepat di seberang jalan dan lihatlah ke kanan. Anda akan melihat kanji "大" yang mereka gunakan ketika mereka menerangi bukit pada bulan Agustus untuk perayaan Obon.

Bergerak menuruni jalan diapit oleh taman berlumut, yang menampilkan pohon-pohon tua yang indah. Ada beberapa anak tangga batu agak panjang ke kanan, tetapi Anda harus melanjutkan ke kiri, ke daerah tiket. Tiket masuk ke Kinkaku-ji mungkin adalah salah satu tiket termewah yang pernah Anda dapatkan. Bentuknya cantik dengan kaligrafi hitam didukung oleh segel merah pada kertas strip putih besar.

Melewati area tiket dan di sekitar tikungan, segera Anda melihatnya; bangunan emas di danau kecil (karena kolam tidak terdengar cukup elegan di sini). Sesungguhnya bangunan ini tidaklah sangat besar. Tingkatannya tidak terlalu tinggi dan bangunannya hanya ada tiga tingkat yang mencapai ketinggian total 12,5 meter. Ketika pada hari mendung saya melihatnya, warna emas di bangunannya adalah warna emas yang kaya, tanpa banyak sinar matahari menyilaukan sisi luar lapisan emasnya.

Ada tanda di SELURUH area yang dengan jelas menyatakan tidak boleh memakai kamera. Namun pada dasarnya tidak ada orang yang TIDAK mengambil gambar dan penjaga keamanannya tidak peduli sama sekali. Saya tidak memiliki penjelasan untuk ini. Jadi tembakkanlah kameramu kemana-mana. Mengapa harus menjadi satu-satunya orang yang mengikuti aturan dan tidak mendapatkan foto yang patut dikenang? Jika Anda ingin mencoba mendapatkan gambar klasik dari paviliun yang memantul di air, ini adalah area untuk mendapatkannya. Berjalanlah di sekitar danau, Anda akan bisa lebih dekat ke paviliun di sisi lain, tapi area itu sebagian diselimuti oleh pohon-pohon pinus yang elegan yang menyebabkan gambar menjadi tidak jelas.

Paviliun ini sendiri, sayangnya, merupakan rekonstruksi dari tahun 1950 ketika dibakar oleh seorang biarawan muda yang diceritakan agak terganggu pikirannya. Dan ornamen di atas, ironisnya, adalah seekor burung phoenix.

Daya tarik lainnya adalah rumah minum teh tua. Sayangnya, bangunan ini juga merupakan hasil rekonstruksi. Rumah minum teh asli dari abad 17 dilalap api di akhir 1800-an, dan rekonstruksi berlangsung sepuluh tahun kemudian. Setelah kemewahan Kinkaku-ji, rumah minum teh mungkin tampak membosankan, tapi ingatlah bahwa upacara minum teh seharusnya menjadi pengalaman yang membuat rendah hati dan menyamaratakan orang, dengan keindahan yang berasal dari upacara itu sendiri, bukan lokasi di mana ia dilakukan. Penggemar estetika 'wabi-sabi' akan suka dengan rumah minum teh dengan segala kekurangan dan ketidaksempurnaan yang membuatnya menarik untuk dilihat.

Bagi mereka yang tidak bisa mendapatkan jepretan foto sempurna dari paviliun, ada sebuah toko dengan kartu pos, photobook, telepon Hello Kitty mempesona, dan berton-ton souvenir lainnya untuk dipilih. Di jalan keluar, berhenti dan belilah minuman dari mesin penjual otomatis atau menikmati camilan atau es krim dari toko kecil.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Santy Tobing

Santy Tobing @santy.tobing

no one realizes how beautiful it is to travel until he comes home and rests his head on his old, familiar pillow. 

Artikel asli oleh Katrina Webber

Tinggalkan komentar