Mendaki Asahi-dake di Musim Gugur

Petualangan di gunung tertinggi di Hokkaido

Oleh Febry Fawzi   13 Okt 2015

Asahi-dake atau Gunung Asahi (2290 meter) merupakan titik tertinggi di Hokkaido. Selain itu, gunung ini juga menjadi basis untuk mengeksplorasi Taman Nasional Daisetsuzan, salah satu taman nasional terbesar dan terliar di Jepang. Kedatangan saya akhir September ke sini bertujuan untuk menikmati awalnya musim gugur di Hokkaido dan tentunya untuk menaklukkan gunung tertinggi di Hokkaido.

Saya berangkat pagi sekitar jam 9 pagi dari Stasiun Asahikawa. Bus menuju Asahidake Onsen dari Stasiun Asahikawa hanya beroperasi tiga kali dalam sehari, begitu juga sebaliknya. Jadi pastikan diri tidak kesiangan karena akan memakan waktu yang lama untuk menunggu pemberangkatan selanjutnya. Tarif bus dari Stasiun Asahikawa adalah ¥1430 sekali jalan. Perjalannya memakan waktu sekitar satu jam namun saya bisa bilang bahwa pemandangan yang disajikan dalam rute ini sangatlah indah. Pedesaan Hokkaido bisa Anda temui di sini. Dengan beragam rumah khas pedesaan di tengah persawahan luas.

Begitu tiba di Asahidake Onsen, saya langsung membeli tiket menuju Stasiun Sugatami dengan menggunakan ropeway. Tarifnya memang cukup mahal yaitu ¥2900 (pulang-pergi) untuk perjalanan hanya sekitar 15 menit. Pemandangan yang disajikan memang spektakuler, apalagi di saat musim gugur begini. Bukit yang kami lewati sedang berubah warna, belum sempurna, namun saya sudah bisa menikmati warna-warna musim gugur. Sayangnya saat itu gerimis hujan dan kabut datang sehingga jarak pandang jadi terbatas.

Asahidake merupakan tempat pertama di Jepang untuk menikmati warna-warna musim gugur dan salju setiap tahunnya. Warna musim gugur di sini memang menggoda banyak wisatawan untuk datang di pertengahan bulan September. Nah, untuk yang mau bermain ski, sangat mungkin untuk datang mulai dari Desember hingga awal Mei.

Sesampainya di Stasiun Sugatami, saya langsung bersiap-siap untuk mendaki menuju Asahidake Summit. Pakai jaket terlebih dahulu dan tentunya sepatu boots biar tangguh. Awalnya jalan yang disediakan masih bagus yaitu beralaskan kayu. Selanjutnya hanya jalanan berbatu yang semakin menyempit. Meski diserang kabut namun pemandangannya tetap mengagumkan loh!

20 menit berjalan kaki, akhirnya saya tiba di Telaga Sugatami. Di kejauhan juga terlihat asap sulfur yang mengepul serta suara semburannya sangat nyaring dari kejauhan. Kabut makin tebal dan puncak gunung tak terlihat. Udara juga makin dingin dan rintik hujan masih terasa. Saya tak menyerah. Bersama pendaki lain, kami tetap terus berjalan sambil sesekali beristirahat mengatur napas. Jalur semakin tak karuan, sudah tak terlihat tanaman di sekitar dan hanya terlihat bebatuan di sana sini. Ujung jurang pun tau-tau ada di samping karena pandangan tertutup kabut. Suasana semakin menegangkan! Saya tak berhenti hingga hujan makin deras mengguyur. Angin tak kalah marahnya, mereka menghantam setiap pendaki dari segala arah. Akhirnya setelah semuanya basah dan lepek, saya menyerah dan memutuskan turun ke bawah. Saya benar-benar tak kuat oleh dinginnya, berasa dihajar oleh hujan es.

Meskipun setelah stasiun ropeway ketinggiannya hanya 1600 meter di atas permukaan laut namun tumbuhan di sini sudah berubah menjadi lansekap tundra alpen. Sangat cocok setelah mendaki, Anda mampir ke onsennya untuk merileksasikan otot-otot yang tegang akibat berjibaku dengan Gunung Asahi. Tapi jangan sampai ketinggalan bus terakhir ya, yaitu jam 18.41.

Ditulis oleh Febry Fawzi
JapanTravel Partner

Tinggalkan komentar