Yayoiken Ryogoku

Menikmati makanan lokal dengan menu yang berlimpah, teishoku

Oleh Vicky Amin   

Tidak ada yang lebih menyenangkan dari berjalan-jalan di suatu tempat yang asing, dipandu oleh penduduk setempat yang gemar menunjukkan hal-hal yang berbau lokal. Pagi itu saya bertemu Nao, warga asli Tokyo yang saya kenal saat berkunjung ke Jepang untuk yang kedua kalinya. Kami janjian untuk sarapan bersama, dan tentu saja, karena merupakan orang Jepang tulen, saya meminta Nao untuk mengajak saya makan sesuatu yang tradisional. Ia pun membawa saya ke Yayoiken.

Saya pikir tempat ini hanya merupakan restoran biasa yang menjual menu-menu Jepang pada umumnya seperti donburi atau nasi kare. Tapi ternyata, Yayoiken memiliki spesialisasi untuk satu lagi tipe masakan khas Jepang yang belum pernah saya perhatikan sebelumnya: teishoku.

Teishoku adalah menu lengkap tradisional Jepang, semacam set meal berisi paling tidak empat jenis komponen: nasi putih, sup miso, lauk utama, dan lauk pelengkap. Teishoku tergolong masakan rumahan, jadi biasanya pasti menggunakan bahan-bahan yang sehat dan wajar untuk dikonsumsi sehari-hari. Jenis-jenis teishoku beragam sesuai dengan lauk utama yang disajikan, ada yakizakana teishoku (ikan bakar), tempura teishoku (ikan, udang, atau sayuran yang digoreng dengan tepung), tonkatsu teishoku (daging babi), sashimi teishoku, dan masih banyak lagi. Di Yayoiken, ada pula pilihan yang tidak terlalu tradisional seperti chicken katsu dengan saus tartar, babi bakar mentega, bahkan daging hamburger dan steak. Saya sendiri waktu itu memilih set menu "Irodori Teishoku" yang terdiri dari aneka macam lauk utama (enam jenis berbeda), namun dengan masing-masing porsi kecil. Meski demikian, saya tetap kekenyangan! Sedangkan untuk lauk pelengkap, biasanya disajikan semacam acar atau salad mini.

Unsur tradisional yang paling menonjol dan paling menarik dari teishoku adalah etika peletakan masing-masing komponen makanan yang disajikan. Set makanan biasanya akan disajikan di hadapan Anda, dengan nasi di sebelah kiri, sup miso di sebelah kanan, dan lauk utama diletakkan di belakang keduanya. Namun tentu saja, Anda bebas mengubah posisi makanan di atas nampan sesuai kehendak Anda.

Lauk-lauk teishoku mungkin terdengar biasa saja, tapi menu yang satu ini merupakan tipe makanan yang bisa dibilang sangat tradisional, dan bahkan memiliki makna lebih dari sekadar makanan untuk membuat perut kenyang. Masyarakat Jepang sangat percaya soal menu makanan yang seimbang dan bernutrisi. Karenanya, mereka akan sebisa mungkin menyiapkan menu dengan lauk-pauk yang lengkap untuk setiap waktu makan (bahkan untuk makanan yang dikemas seperti bento). Selain untuk kesehatan, teishoku ternyata juga memiliki nilai relijius di baliknya karena merupakan tipe makanan yang dulunya dibagikan di kuil-kuil Zen. Konsep tersebut bernama ichiju-issai (“satu sup, satu lauk”), yang seiring berjalannya waktu menyebar ke seluruh penjuru negeri dan diadopsi oleh restoran dan kedai sebagai makanan sehari-hari.

Karena merupakan jenis masakan rumahan, teishoku biasanya dipatok dengan harga yang cukup terjangkau. Set paling murah di Yayoiken hanya seharga ¥390 untuk menu "Natto Teishoku" (natto adalah kacang kedelai fermentasi yang merupakan salah satu masakan tradisional Jepang), sedangkan yang paling mahal mencapai ¥1,500, biasanya untuk menu-menu premium dan terbatas (limited edition). Harga-harga di restoran teishoku lain pun pasti hanya berkisar antara ¥500 - 1,000 saja.

Secara keseluruhan, rumah makan ini bisa dibilang modern. Lokasinya berada tak jauh dari pusat wisatawan di wilayah Ryogoku, tepat di pinggir jalan raya. Bangunannya pun tergolong baru, tidak usang dan terkesan terlalu merakyat. Tapi sebagai sebuah restoran yang menyajikan masakan khas Jepang, Yayoiken tetap menampilkan nuansa tradisional yang kental dengan aksen-aksen kayu, lampu-lampu kuning temaram dan pintu-pintu kertas. Buku menu pun tersedia dan dibagikan langsung ke meja pelanggan, tidak seperti kebanyakan restoran di Jepang yang sekarang sudah menggunakan mesin untuk memilih menu dan bayar.

Meski sangat tradisional, makan di Yayoiken dan restoran teishoku kebanyakan sama sekali tidak mengintimidasi layaknya tempat makan tradisional lain yang mungkin memiliki tata cara dan tata krama tertentu ketika harus memesan atau memakan makanannya. Tempat ini sangat kasual, seperti makan di restoran biasa, namun murah, memuaskan karena lengkap, dan yang paling penting, menawarkan pengalaman kuliner otentik Jepang!

Cara ke sana

Dari Ryogoku Station, Yayoiken hanya berjarak 300m berjalan kaki ke arah selatan.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Vicky Amin

Vicky Amin @vicky.amin632

A traveler, budding travel writer, and amateur author. Writing is my way to redo my amazing journey all over again. I started "Cheating the World" project and with it, I've made two of my annual trips in a form of a book: "Cheating Southern Vietnam", and "Cheating Hong Kong & Macau" (still in Bahasa Indonesia, sorry...). Japan? Of course it's on top of my writing list. It was too good to not be recorded.

Tinggalkan komentar