Toco Guesthouse di Tokyo

Penginapan tradisional untuk backpacker

Oleh Febry Fawzi   5 Okt 2015

Selalu ada cara hemat untuk berlibur di Jepang. Cara paling ampuh untuk para solo traveler adalah dengan menginap di hostel dengan kamar dormitory. Kunjungan terakhir saya ke Tokyo pada September 2015 memberikan saya kesempatan untuk menginap di salah satu hostel terbaik di Tokyo. Toco Guesthouse merupakan akomodasi untuk para backpacker dengan bangunan otentik dan tradisional namun konsepnya modern. Berdiri di bangunan berumur 90 tahunan, Toco Guesthouse juga membuka bar, tempat di mana para hipster Tokyo berkumpul.

Saya sendiri adalah penggemar hostel dan sudah mencobanya di beberapa negara. Menurut saya, belum ada yang menandingi keapikan hostel-hostel di Jepang, ya meski harganya tak semurah penginapan di negara-negara berkembang seperti Thailand atau Kamboja, namun hostel di Jepang bisa dibilang sebanding dengan harga yang ditawarkan.

Saya telah lama mengincar penginapan yang satu ini. Toco Heritage Hostel berlokasi di Taito-ku, bagian timur kota Tokyo. Dibuka pada Oktober 2010, Toco Guesthouse memiliki beberapa jenis kamar, seperti 9 beds mixed dormitory, 6 beds mix dormitory, 6 beds female dormitory, dan juga double serta triple room yang bergaya Jepang dan barat. Semua kamarnya memang tidak memiliki kamar mandi pribadi, jadi para tamu bisa menggunakan ‘shared bathroom’ yang bersih dan dilengkapi dengan sabun, shampoo, serta conditioner secara gratis.

Meskipun saya sudah memesan hotel ini satu bulan sebelum kedatangan namun Toco Guesthouse merupakan hostel yang cukup terkenal dan diminati banyak turis sehingga hampir saja saya kehabisan kamar. Jadi saran saya, kalau memang sudah berencana untuk ke Tokyo dari jauh hari, sebaiknya langsung booking hostel ini. Tarifnya mulai dar ¥2700 hingga ¥2900 untuk kamar dormitory dan sekitar ¥6000 hingga ¥8000 untuk kamar double/triple.

Setibanya di Toco Guesthouse, saya langsung disambut secara hangat oleh para stafnya. Para staf juga masih muda dan mampu berbahasa Inggris dengan baik. Sepertinya saat itu saya sedang beruntung karena ketika tiba, seorang staf yang bernama Marie baru saja membuat pancake isi labu. Di tengah hujan yang mengguyur Tokyo seharian, saya merasakan kehangatan dari staf Toco yang bersahabat, pancake yang lezat, serta matcha hangat.

Saat itu saya menginap di kamar 6 beds mixed dormitory. Satu penginapan penuh namun saya benar-benar bisa merasakan ketenangan. Di dalam tempat tidur, Anda akan menemukan kasur dan bantal yang nyaman, selimut tebal, lampu baca, gantungan baju, colokan listrik, dan tentunya setiap tempat tidur dilengkapi dengan tirai sehingga tetap mendapatkan privasi. Tak membawa handuk? Tenang.. Anda bisa menyewanya dengan hanya ¥100. Tak membawa gembok untuk mengunci loker Anda? Anda juga bisa menyewa gembok dengan harga ¥150. Ada juga sewa sepeda ¥200-300.

Saya juga diajak tur keliling hostel dengan Marie. Dia menunjukkan sebuah situs budaya di sebelah hostel atau tepatnya berada di dekat halaman samping hostel yaitu sebuah gundukan batu. Gundukan batu yang hampir berbentu seperti bukit kecil ini merupakan kumpulan batu yang dibawa langsung dari Gunung Fuji ratusan tahun lalu. Dulu tempat ini merupakan tempat beribadah namun sekarang tempat ini hanya dibuka 2 kali dalam setahun.

Hostel ini sangat mudah dituju. Cukup naik Tokyo Metro, Anda bisa turun di Stasiun Iriya pada jalur Hibiya Line. Kemudian jalan selama 2 menit saja. Jika Anda suka minum, Anda bisa bergabung bersama para hipster Tokyo yang gaul dan bersahabat karena di saat malam lobi Toco Guesthouse berubah menjadi bar yang hidup. Malah Anda juga bisa menikmati live music kalau beruntung.

Ditulis oleh Febry Fawzi
JapanTravel Partner

Tinggalkan komentar