Budouka Ramen Waseda

Restoran ramen yang sibuk, di dekat area kampus

Oleh Joseph Bautista   

Semasa pertukaran pelajar saya di Waseda, ada sebuah tempat yang selalu bisa menjinakkan perut saya tiap minggu. Pertama kali saya memasuki Budouka, setelah menunggu selama 30 menit mengantre di luar, saya tahu pengorbanan saya pasti akan setimpal dengan apa yang akan saya santap. Sebagai pendatang baru di Tokyo, ketika menemukan sebuah antrean panjang di depan restoran atau toko, kemungkinan besar makanan yang dijual sangatlah enak. Dan apabila restoran itu terletak tepat di sebelah area kampus, dapat dijamin bahwa bukan hanya rasanya saja yang lezat—harganya pun bersahabat. Dengan sapaan "Seeiii" meriah, para staff menyambut kedatangan saya ke dalam restoran. Pengetahuan saya mengenai Bahasa Jepang pada saat itu masih belum begitu baik untuk memahami bahwa sapaan itu adalah singkatan dari "irrashaimasei", namun insting saya mengatakan bahwa itu adalah pertanda yang bagus.

Setelah berurusan dengan mesin tiket dan memilih semangkuk tonkotsu ramen besar dengan telur rebus dan seporsi nasi seharga ¥1000, saya memberikan secarik kertas kepada sang peracik ramen lalu mengambil salah satu bangku konter yang kosong. Konternya cukup untuk menampung paling banyak sepuluh pengunjung sekaligus, dan semuanya terletak di depan staf yang berada di dapur kecilnya.

Di kebanyakan restoran, hanya sebatas itulah interaksi antara pengunjung dan tamunya—namun tidak untuk restoran ini. Di Budouka, pelanggan akan diminta memilih satu dari tiga pilihan rasa yang mereka inginkan, juga tingkat kepadatan mie, kekayaan rasa sup, juga tingkat minyak pada kuah kaldu. Semakin kuat rasanya, semakin sulit untuk menghabiskan semangkuk besar ramen. Sang master ramen sangat membantu ketika melihat saya kesulitan membaca pilihan yang ditanyakan, dan dengan ramah menerjemahkannya ke dalam Bahasa Inggris untuk saya. Saya pun memutuskan untuk memilih tingkat yang paling kuat, lalu mulai memerhatikan mereka bekerja di dapur.

Di Jepang, semakin keras suara Anda menyeruput mie, semakin orang-orang mengira bahwa makanan itu lezat. Dan di Budouka, suara semua pelanggan menyeruput bersamaan terdengar seperti sebuah badai tropis. Tak heran para staf harus berteriak "Seeiii" dengan begitu keras ketika ada pelanggan baru yang masuk ke restoran. Satu rasa kaldu dan mie sudah cukup bagi saya. Rasa ramennya yang begitu kuat mungkin tidak akan terasa sama di lidah orang lain, namun bagi saya sangat patut dicoba. Saya menaburkan sejumlah acar di atas mangkuk nasi saya dan menyantapnya dengan cepat, karena saya begitu terfokus pada ramennya. Seorang staf melihat mangkuk kosong saya dan bertanya "okawari" sebagai tawaran apakah saya ingin seporsi nasi tambahan. Di Budouka, semangkuk nasi hanya seharga ¥50, dan Anda bisa meminta lagi sesuka hati tanpa dipungut biaya tambahan.

Staf yang ramah, rasa yang kuat, harga yang setimpal untuk makanannya, dan cara untuk menikmati perbincangan tanpa menghiraukan perbedaan bahasa. Seluruh bahan dasar pembuatan mie diracik sedemikian rupa sehingga terasa begitu lezat dan karenanya, Budouka memperoleh pelanggan setia sepanjang hidupnya. Selama saya menetap sebagai pelajar, saya datang ke tempat ini paling tidak satu kali dalam seminggu hingga pada akhirnya para staf mengenali saya meski sempat tidak hadir selama sebulan penuh. Sekarang sudah empat tahun sejak kunjungan pertama saya, dan tiap kali saya kembali ke Tokyo untuk berwisata, saya pastikan untuk kembali mendatanginya.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Vicky Amin

Vicky Amin @vicky.amin632

A traveler, budding travel writer, and amateur author. Writing is my way to redo my amazing journey all over again. I started "Cheating the World" project and with it, I've made two of my annual trips in a form of a book: "Cheating Southern Vietnam", and "Cheating Hong Kong & Macau" (still in Bahasa Indonesia, sorry...). Japan? Of course it's on top of my writing list. It was too good to not be recorded.

Artikel asli oleh Joseph Bautista

Tinggalkan komentar