Sehari di Sendai

Air terjun Akiu, Sendai

Oleh Sekar Budi   30 Okt 2014

Bermula dari gyutan (irisan tipis lidah sapi yang dipanggang) oleh-oleh yang terkenal yang dibawakan oleh rekan kerja saya sepulang dari Sendai, membuat saya tiba-tiba ingin mengunjungi Sendai. Gempa bumi dan tsunami besar yang menghantam bagian pesisir kota di tahun 2011 tidak menghalangi niat saya untuk menikmati gyutan lagi secara langsung dan menjelajah kota Sendai, ibukota prefektur Miyagi dan kota terbesar di wilayah Tohoku.

Bersama seorang teman, kami mengumpulkan informasi mengenai Sendai lewat internet dan beberapa teman kami. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke air terjun dan permandian air panas Akiu yang letaknya sedikit jauh dari pusat kota Sendai. Kami mendengar bahwa air terjun Akiu merupakan salah satu air terjun terpopuler di Jepang.

Kota Sendai tak banyak bedanya dengan kota besar lainnya di Jepang. Banyak gedung bertingkat, pusat perbelanjaan dan restoran. Kota yang menjadi pusat perekonomian daerah Tohoku ini, juga dikenal dengan the city of trees atau (杜の都,Mori no Miyako). Sendai memiliki banyak jalan yang sangat teduh dengan rindangnya pohon di sisi kiri dan kanan jalan seperti saat kita melintas di Jalan Jozenji (Jozenji dori) atau jalan Aoba (Aoba dori)

Perjalan dari Stasiun Sendai menuju air terjun Akiu memakan waktu kurang lebih 1 jam dengan menggunakan bus. Setibanya di pintu masuk air terjun, kita disambut oleh sebuah torii (gerbang merah) dan sebuah kuil (Akiu Otaki Fudoson). Kuil ini dikatakan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan biarawan Budha yang terkenal yang bernama Jikaku Daishi (juga dikenal sebagai Ennin), yang selama perjalannya di area tohoku menjalani pelatihan keagamaan yang ketat selama 100 hari di air terjun Akiu. Kuil ini juga memiliki pohon ginko yang besar yang daunnya berubah indah kuning keemasaan pada musim gugur. Di belakang kuil terdapat tempat observasi yang membuat saya semakin tidak sabar untuk melihat air terjun lebih dekat. Tak jauh dari sana juga terdapat kafe kecil untuk bersantai ataupun melepas lelah sepulang dari air terjun.

Untuk mencapai dasar air terjun, kita harus melewati jalanan kecil yang disusul dengan jalanan beraspal dan sebuah jembatan sebelum memasuki jalanan kecil lagi menurun ke dasar air terjun. Perjalanan tersebut tidak lah terlalu sulit, namun tetaplah berhati-hati pada saat hujan atau setelah hujan, supaya tidak jatuh terpeleset. Dari sisi jembatan pun kita dapat melihat air terjun yang menyembul dibalik pepohonan dan sungai nitori yang mengalir dengan tenangnya. Di kanan jembatan pun terdapat sebuah jembatan hijau di kejauhan.

Sesampainya kami disana, saya dibuat terpersona oleh air tejun setinggi 55 meter. Segera saja saya mencari tempat di bebatuan untuk bersantai melepas lelah setelah sepekan berkerja. Lokasinya memang tidak terlalu besar, namun suara air dan rimbunnya pepohonan disekitar kami cukup menenangkan hati.

Selepas bersantai , kami menggunakan waktu yang masih tersisa untuk mencoba jajanan Jepang yang tersedia di pinggir pintu masuk air terjun. Kami mencoba dango, kue jepang bulat yang ditusuk seperti sate dan dilumuri oleh saus. Rasanya gurih dan sedikit manis. Setelah itu kami segera mengejar bus terakhir menuju permandian air panas Akiu. Ingatlah untuk mencatat jadwal kepulangan bus, karena tidak terlalu banyak bus di daerah ini.

Beberapa permandian air panas tersedia di dalam penginapan. Namun jangan kwatir bila anda tidak berencana menginap disana. Biasanya mereka menyediakan paket satu hari yang berkisar antara 1.000 - 2.000 yen.

Lengkaplah satu hari kami di Sendai setelah kami tutup dengan gyutan yang disajikan bersama nasi dan sup buntut, yang sudah kami tungu - tungu sebagai santap malam sebelum kami kembali ke kota.

Ditulis oleh Sekar Budi
JapanTravel Member

Tinggalkan komentar