Momiji di Izumi Nature Park, Chiba

Momiji at Izumi Nature Park, Chiba

Oleh Husnul Kausarian   1 Des 2014

Sore itu, terasa nyaman sekali tatkala saya bersama rombongan teman-teman Indonesia dibawa bersiar-siar mengunjungi taman alam Izumi yang berada di daerah perfektur Chiba. Izumi Nature Park terletak di bagian timur kota Chiba. Berjarak kurang lebih 10 kilometer dari pusat kota Chiba, taman ini memiliki luas sekitar 73 hektar.

Izumi Nature Park adalah taman yang sangat indah. Taman ini dirawat dengan sebaik-baiknya agar kealamiannnya seperti nama yang disematkan kepadanya tetap selalu terjaga. Kondisi taman ini sedikit berbukit dengan perbedaan kuntur yang agak mencolok. Disini kita disajikan dengan pola perbukitan khas ala taman alam.

Tapi jangan bimbang, di taman ini segala fasilitas tersedia dengan lengkap, terutama fasilitas-fasilitas utama seperti toilet umum, tempat bersantai di kursi duduk untuk menikmati lanskap taman, arena berolahraga hingga fasilitas buat orang yang mengalami kekurangan fisik. Fasilitas lainnya adalah tempat membuang sampah yang tersebar di banyak titik di dalam taman ini, sehingga kelestarian alam dan kebersihannya akan senantiasa terjaga dari sampah yang merusak keapikan pemandangan taman ini.

Berangkat dengan menumpang mobil teman Jepang bernama Kazuya Shirai, kami tiba di Izumi Nature Park pukul 13.30. Berhubung musim gugur adalah musim peralihan ke musim dingin, suhu terasa sedikit dingin saat itu, berkisar di angka 11 derajat Celsius. Setibanya disana, kami pun tidak menyia-nyiakan waktu untuk segera mengeksplor taman ini. Baru saja memasuki taman, kami disajikan lanskap-lanskap indah kawasan asri yang ditumbuhi oleh pepohan rindang. Yang menarik perhatian, tentunya adalah pohon maple. Pohon ini merupakan ciri khas musim gugur. Daunnya yang berbentuk lancip atau lebh mirip seperti cuping, mungkin sudah sangat akrab kita temui di dalam gambar bendera sebuah negara, ya negara Kanada menempatkan daun maple sebagai simbol yang terdapat di benderanya.

Musim gugur atau Aki dalam bahasa Jepang yang memiliki arti harfiah gugur, menandakan bahwa kita akan segera memasuki musim dingin tak lama lagi. Hal ini ditandai dengan suhu yang memasuki angka dibawah 15 derajat Celsius. Bagi saya yang asli orang Pekanbaru, Riau, semua tahu bahwa kampung saya adalah daerah tropis yang cukup “panas”. Sehari-hari saya terbiasa dengan suhu yang berada di atas 25 derajat Celsius, dan suhu yang berada dibawah 15 derajat Celsius tentulah hal yang berbeda buat saya, dengan kata lain ini cukup mendinginkan bagi tubuh saya. Dan benar saja, suhu tersebut membuat saya harus terpaksa mengenakan baju tambahan untuk melindungi tubuh dari kedinginan. Meski dingin tetap terasa, tapi perlengkapan baju hangat ini sangat membantu tubuh saya menghadang dingin yang disajikan oleh alam pada musim gugur ini.

Memasuki pintu utama dari Izumi Nature Park, kita langsung akan bertemu dengan gundukan bebukitan kecil yang kerataan tanahnya ditimbuni dengan rerumputan halus. Bebukitan kecil ini, dibagian ujungnya ditumbuhi oleh pohon maple, sehingga begitu baru saja memasuki taman ini kita langsung bergumam gembira melihat pohon maple yang daunnya berwarna-warni ini. Memasuki areal taman, kita langsung bertemu dengan jembatan gantung. Jembatan gantung yang terdapat di Izumi Nature Park ini bernama sama dengan nama taman ini; Izumi. Dari jembatan ini kita bisa melihat kontrasnya warna-warni dedaunan pohon maple yang indah. Dari sini juga kita bisa melihat kolam yang terdapat pada bagian bawah perbukitan taman ini, pantulan air permukaan kolam menambah keindahan daun maple yang berwarna-warni tersebut.

Pohon maple yang memiliki nama latin Aler Campester ini menjadi tumpuan manusia dalam menikmati indahnya musim gugur, karena dedaunan dari pohon ini akan menghasilkan warna-warni yang indah pada saat musim gugur. Suhu yang dingin, seolah tidak berpengaruh jika sedang menikmati keindahan warna-warni daun maple. Taman-taman akan penuh dengan kumpulan keramaian manusia yang tak sabar untuk melihat dedaunan ini.

Kompilasi berbagai warna yang ada di dedaunan pohon maple, menyemarakkan suasana sehingga rasa dingin yang menghadang, bisa dihiraukan. Warna-warni dedaunan ini bermacam-macam, ada yang warna merah, hijau, kuning, biru, ungu dan lain-lain. Inilah semarak keindahan yang dimunculkan oleh warna-warni daun maple. Ditambah, jika matahari jatuh menerpa permukaan daun maple, warna-warni tersebut akan semakin menyerlah kewarnaan nya, semakin semarak warna tersebut, seolah-olah warna tersebut menjadi lebih hidup, karena terpaan cahaya matahari membuat permukaan dedaunan memancarkan kilatan warna yang indah.

Keindahan dari dedaunan pohon maple tersebut semakin lengkap dengan lanskap taman yang dilengkapi oleh kolam yang di sekelilingnya ditumbuhi pohon maple. Lanskap kolam menambah keindahan dari pohon maple ini, karena pantulan yang di timbulkan oleh permukaan air yang terdapat di kolam, memberikan harmonisasi tersendiri dari pantulan dedaunan pohon maple. Seolah bercermin, dedaunan maple yang berwarna warni tersebut menggambarkan kesemarakan warnanya, menggandakannya hingga menjadi banyak karena pantulannya memberikan hasil yang lebih banyak.

Seolah masih belum lengkap dengan lanskap indah ini, kolam yang terdapat di tengah-tengah taman juga dihuni dengan beberapa satwa cantik. Bebek dengan spesies berwarna hadir beradaptasi dengan lingkungan barunya, bangau dengan kaki panjangnya yang lentik, menemani bebek mengisi ruang di kolam. Dengan bergerak perlahan khas ala bangau, kita yang melihat tanpa sadar menarik bibir hingga ke hujung mewujudkan simpul senyum yang simple, tergelitik hati melihat gaya centil si bangau.

Lalu, di dalam air tak lupa pula sekumpulan ikan jenis mujair dan gurame, bersama saling berliuk-liuk mengitari kawasan kolam. Seakan jinak, ikan ini akan segera datang berbondong-bondong kearah kita berdiri. Mungkin dikiranya kita adalah tuan yang hendak memberikannya makan. Tak lengah melihat aksi ikan-ikan ini, justru membuat kita yang terpancing untuk segera memberikannya makan, maka tak heran, remahan roti menjadi makanan untuk diberikan ke ikan-ikan tersebut. Dan hati pun senang melihat sekumpulan ikan yang banyak, berkumpul dan saling berebutan terhadap remah roti yang kita lemparkan.

Namun begitu, berada di taman alami hendaknya selalu memberikan perhatian terhadap kemungkinan munculnya hewan-hewan yang mungkin bisa menyakiti kita. Contohnya adalah ular. Taman alam, sesuai dengan namanya merupakan daerah alami untuk didiami oleh flora dan fauna. Tapi kekhawatiran ini hanya sebagian kecil yang perlu dipertimbangkan, karena pihak pengelola taman telah mengantisipasi atas kemungkinan munculnya hewan-hewan seperti ular, salah satunya adalah memberikan tanda peringatan di spot-spot yang mungkin terdapat ular dan daerah tersebut diberi pagar keliling, agar para pengunjung tidak terlalu masuk ke dalam area. Jika beruntung, kita bisa melihat ular disana.

Indahnya Momiji benar-benar membuat hati ini tenang menikmatinya. Sejenak semua yang ada di dalam pikiran ini membaur terfokus pada keadaan hanya untuk menikmati sajian keindahan ciptaan tuhan ini, tiada lain yang bisa mempengaruhi keindahan dan harmonisasi yang diberikan oleh warna-warni daun maple.

Semoga kita berjumpa lagi di masa lain, momiji.

Ditulis oleh Husnul Kausarian
JapanTravel Member

Gabung diskusi

Yuna Pradjipta 3 tahun yang lalu
masuk kesini bayar kah? berapa? kalo pas musim semi gimana pemandangannya? hehe. terima kasih :)