Cafe Seven Islands

Kafe menarik dengan hidangan lokal di Naoshima

Oleh Lee Tan   

Laut Pedalaman Seto membentang di antara Honshu, Shikoku dan Kyushu, serta meliputi 3000 pulau, yang sebagian besar tidak berpenghuni. Secara sejarah, perairannya yang tenang menjadikannya akses penting bagi jalur perdagangan. Sekarang, area ini justru lebih dikenal sebagai kepulauan yang penuh seni dengan adanya Naoshima dan Teshima, juga Setouchi Triennale. Kalau Anda tertarik dengan sejarah dari bagian Jepang yang tidak banyak dijelajah ini, atau ingin mencicipi kulinernya, coba kunjungi Cafe Seven Islands di Honmura, Naoshima.

Kafe ini dimiliki dan dijalankan oleh Iwao Yokoyama yang sangat ramah, yang menjadi sumber mengenai informasi setempat. Datanglah untuk mencoba makanannya, namun tinggallah sejenak untuk berbincang dengannya apabila ia sedang tidak sibuk. Ia akan sangat senang untuk berbagi pengetahuan mengenai sejarah dan adat kepulauan, dan ia sangat pandai berbahasa Inggris. Iwao berasal dari Shodoshima, lalu pindah ke Pulau Naoshima pada tahun 2010. Buka pada tahun 2013, kafe ini berlokasi di area Art House Project, tepat di sebelah Museum Ishibashi.

Menu spesial kafe ini adalah chagayu, semacam bubur yang lazim disantap di Kepulauan Shiwaku. Secara tradisional, hidangan ini disiapkan dengan goishicha, teh pekat hasil fermentasi yang langka dari prefektur Kochi. Namun untuk kafenya, Iwao mengganti teh itu dengan hojicha untuk menyesuaikan lidah orang kebanyakan. Hidangan ini ditemani oleh sebuah ikan kering utuh dan hidangan sampingan yang mungkin berisi acar sayuran, rumput laut, dan kanroni alias ikan yang dimasak dengan kecap dalam waktu yang panjang.

Hidangan spesial lainnya adalah tamago kake gohan, sebuah menu sarapan tradisional Jepang yang ia sajikan untuk makan siang. Set menu ini terdiri dari nasi, telur mentah dan hidangan sampingan yang sama dengan chagayu. Sebisa mungkin, Iwao menggunakan produk setempat dari Laut Pedalaman Seto seperti garam Naoshima, rumput laut dari Shodoshima, pasta dari Pulau Awaji, dan ikan-ikan dari laut dalam.

Bahkan santapan favorit pada umumnya seperti nasi kari pun memiliki sentuhan lokal yang serupa. Terinspirasi oleh kari dari Kepulauan Iejima, Iwao menggunakan air rebusan udang untuk memasak pasta karinya, dan menggunakan udang goreng tepung dan kerupuk udang sebagai lauk hidangan ini.

Kafe kecil yang menawan ini memiliki taman di bagian belakangnya, didekorasi dengan kerajinan tangan dan barang-barang antik khas Jepang, karena Iwao sendiri merupakan kolektor seni yang cukup keranjingan. Tanyakan padanya tentang topeng apapun yang dipajang di dinding, atau pajangan-pajangan yang berjejer di rak. Anda pasti akan mendengarkan kisah yang menarik dari tiap-tiap benda. Anda juga bisa menemukan kimono bekas yang masih tampak cantik dengan kondisi baik untuk dibeli, juga tas, dompet, dan sarung kotak tisu yang dibuat dari kimono yang didaur ulang oleh orang-orang dengan keterbatasan fisik dari sebuah asosiasi di Uno.

Hidangan dan percakapan memang selalu menjadi kombinasi yang sempurna, dan dalam kafe di Naoshima ini, Anda akan mendapatkan keduanya.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Vicky Amin

Vicky Amin @vicky.amin632

A traveler, budding travel writer, and amateur author. Writing is my way to redo my amazing journey all over again. I started "Cheating the World" project and with it, I've made two of my annual trips in a form of a book: "Cheating Southern Vietnam", and "Cheating Hong Kong & Macau" (still in Bahasa Indonesia, sorry...). Japan? Of course it's on top of my writing list. It was too good to not be recorded.

Artikel asli oleh Lee Tan

Tinggalkan komentar