Berburu Monster Kappa di Tono

Menyelidiki legenda di Kolam Kappabuchi

Oleh Justin Velgus   

Kota Tono di Prefektur Iwate terkenal dengan legenda lokal, kepercayaan, dan tradisinya. Cerita rakyat itu diabadikan dalam Tono Monogatariny (Legenda dari Tono) Kunio Yanagita. Dari semua cerita yang unik dan aneh, mungkin tidak ada yang seterkenal dongeng tentang kappa. Monster ini diduga dapat ditemukan di seluruh Jepang, tetapi Kolam Kappabuchi di Tono mungkin adalah tempat nongkrong kappa paling terkenal di seluruh negeri.

Sejak zaman kuno, ada banyak laporan penampakan kappa yang sulit dipahami. Mereka biasanya digambarkan sebagai makhluk reptil berwarna hijau, kadang-kadang biru atau bahkan kuning, merah, atau oranye setinggi anak kecil dengan cangkang kura-kura di punggungnya. Kappa tinggal di dekat saluran air, yang berfungsi bukan hanya untuk minum namun karena mereka membutuhkan air untuk bertahan hidup. Sebuah ciri khas dari kappa adalah adanya bagian dangkal di bagian atas kepalanya, yang membentuk mangkuk untuk membawa air. Ketika air dipindahkan untuk alasan apapun, kappa akan kehabisan energi dan bahkan bisa mati. Kappa, seperti kebanyakan monster dalam legenda, diciptakan untuk menakut-nakuti anak-anak dengan tujuan menjaga mereka dari tempat-tempat berbahaya atau melakukan perilaku yang tidak diinginkan. Dalam hal ini, tidak pergi berenang di sungai tanpa ayah atau ibu.

Kolam Kappabuchi tidak mudah untuk dicapai. Bisa dibilang, perjalanan ke sini pun adalah bagian dari perburuan. Berada 6 kilometer jauhnya dari Stasiun Tono, pilihan terbaik adalah 11 menit berkendara dengan mobil (Kappabuchi カ ッ パ 淵 muncul di GPS), atau pilihan lainnya yaitu sekitar 40 menit naik sepeda (ada beberapa penyewaan sepeda di kota). Terkait dua pilihan ini, anda akan parkir di Denshoen Park (伝 承 園) dan berjalan kaki melewati beberapa lahan pertanian menuju Kuil Buddha Jokenji. Berjalanlah melalui tanah kuil dan lintasi jembatan di belakangnya. Ikuti papan penanda, atau wisatawan, dan akhirnya anda tiba di tujuan. Ada aliran air yang bergerak cepat, pepohonan menggantung yang menghalangi sebagian besar sinar matahari siang, dan dedaunan lebat di kedua tepi sungai. Rasanya seperti sewaktu-waktu kappa bisa muncul dari hampir di mana pun. Sensasi dari akhirnya bisa sampai di sana dan antisipasi untuk melihat sesuatu yang pernah saya baca dalam sebuah bagian sastra klasik benar-benar membuat saya jadi bersemangat, tapi saya harus berhati-hati karena saya mendengar teriakan dari sekitar pojokan berikutnya.

Oh, itu ternyata hanya teriakan gembira anak-anak. Mereka memancing dengan mentimun, karena konon itu adalah makanan favorit kappa. Ada juga sebuah miniatur kuil yang didedikasikan untuk kappa. Kappa di sini dikabarkan telah membantu melindungi kuil di dekatnya sejak generasi yang lalu, dan kappa memberkati para wanita lokal yang datang dan berdoa dengan kemampuan untuk menghasilkan ASI yang berlimpah. Mengapa bisa begitu? Karena ini adalah Jepang dan para monster dianggap ajaib. Sebuah deskripsi singkat dalam bahasa Jepang menjelaskan sejarah daerah. Sementara itu, setiap orang mengambil beberapa foto sebagai suvenir. Nuansanya riang dengan orang tua yang acapkali mengatakan pada anak-anak mereka yang tidak bisa menangkap kappa bahwa kappa suka menggertak dan menggoda, sehingga mereka bersembunyi hari ini. Tapi ada sisi gelap dari para kappa itu. Mereka telah dikenal suka menculik dan memangsa anak-anak, menghamili perempuan, dan merobek atau menghisap bola mitos energi yang konon katanya berada di dalam anus manusia. Berhati-hatilah dengan apa yang anda minta. Meninjau ke belakang, saya sangat senang melihat monster "lucu" ini tidak ada di sungai, tapi hanya ada di papan tanda dan sebagai hadiah di toko-toko di sekitar Tono.

Kolam Kappabuchi terletak keluar dari jalan dan kebanyakan hanya merupakan bagian menyenangkan dari tanaman nan hijau dan sebuah aliran sungai. Namun, bagi mereka yang tertarik dengan cerita rakyat, sedikit imajinasi mengenai "perburuan monster” yang anda lakukan sendiri dapat menciptakan pengalaman yang menyenangkan.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Santy Tobing

Santy Tobing @santy.tobing

no one realizes how beautiful it is to travel until he comes home and rests his head on his old, familiar pillow. 

Artikel asli oleh Justin Velgus

Tinggalkan komentar