Sejarah Sake

Budaya sake adalah budaya Jepang!

Oleh Fiona Yoshitake   

Orang-orang Jepang sudah lama menikmati sake, semenjak 2000 tahun silam.

Sake pertama kali dibawa masuk dari Cina, bersamaan dengan teknik penanaman padi basah. Sekarang, Anda akan dapat melihatnya di kuil-kuil, pesta-pesta hanami, dan tentu saja meja makan. Tanpa ragu lagi, budaya sake adalah budaya Jepang!

Hanami - tradisi musim semi yang sangat ditunggu-tunggu di mana orang-orang akan menikmati sake di bawah pohon sakura (Foto: Fiona Yoshitake)
Hanami - tradisi musim semi yang sangat ditunggu-tunggu di mana orang-orang akan menikmati sake di bawah pohon sakura (Foto: Fiona Yoshitake)

Anda mungkin sudah menonton film keluaran Studio Ghibli tahun 2016, Kimi no Na Wa. Di salah satu adegannya, sang tokoh utama terlihat sedang mengunyah beras dan membungkus 'produk akhirnya' di sebuah sake masu kayu (tonton di sini). Setelah beberapa saat, campuran itu berubah menjadi sake. Nyatanya, kurang lebih adegan ini menggambarkan bagaimana sake dibuat selama berabad-abad ini! Disebut dengan istilah 'kuchikami no sake' atau sake yang dikunyah, proses ini mengandalkan enzim pada air liur manusia untuk memecah pati dalam padi menjadi gula, yang nantinya membuat ragi berfermentasi menjadi alkohol. Tanpa mengunyah padinya, mungkin tidak akan ada yang namanya sake!

Kuchikami no sake dari "Kimi No Na Wa" Studio Ghibli (Foto: Youtube)
Kuchikami no sake dari "Kimi No Na Wa" Studio Ghibli (Foto: Youtube)

Penemuan cetakan Koji semasa Periode Nara (710-794) benar-benar mengubah proses pembuatan sake. Koji sekarang mengambil alih peran enzim dalam air liur, dan aspek inilah yang membuat proses pembuatan sake tetap ada hingga sekarang.

Dulu, sake dibuat sepenuhnya sebagai persembahan untuk para dewa, dan kuil-kuil menjadi termpat utama pembuatan sake selama berabad-abad (coba pikirkan biara-biara membuat minuman-minuman beralkohol di Eropa).

Anda bisa melihat tong-tong sake bertumpuk di salah satu sisi altar kuil (Foto: Fiona Yoshitake)
Anda bisa melihat tong-tong sake bertumpuk di salah satu sisi altar kuil (Foto: Fiona Yoshitake)

Ketika peraturan baru diterapkan pada era Restorasi Meiji (1868-1912), yang memperbolehkan siapapun dengan sumber daya yang memadai serta pengetahuan membuka tempat pembuatan sake sendiri, sake menjadi andalan yang ada dalam kehidupan sehari-hari di Jepang.

Tetap saja, sake masih dikaitkan erat dengan saat-saat upacara, seperti festival dan ritual-ritual Shinto. Berikuta adalah tiga acara di mana sake membawa peran penting dalam upacara istimewa:

Kagami Biraki

Inilah di mana sake disimpan di dalam sebuah tong kayu kecil yang tutupnya akan dihancurkan oleh martil kayu. Secara harfiah berarti 'memecahkan kaca', ritual ini mewakili harapan akan masa yang baru. Sake nantinya akan disendokkan dari tong pada wadah-wadah kecil yang dibagi-bagikan ke para tamu.

Kagami biraki - merusak tong sake (Foto: Richard Wilding)
Kagami biraki - merusak tong sake (Foto: Richard Wilding)

Acara-acara pernikahan

Dalam pernikahan Shinto tradisional, sang mempelai pria dan wanita akan bertukar tiga cangkir sake yang disebut omiki, alih-alih bertukar cincin.

Pernikahan tradisional Jepang (Foto: Japan Photo Library)
Pernikahan tradisional Jepang (Foto: Japan Photo Library)

Tahun Baru

Secara tradisional, orang-orang akan merayakan tahun baru dengan berbagi minuman alkohol medis yang dibuat dari herba-herba alami yang direndam di dalam sake atau mirin, yang disebut dengan 'Toso'.

Seperti yang sudah Anda lihat, sake adalah teman yang sangat dicintai dan penting bagi orang-orang Jepang. Baik untuk kehidupan sehari-hari ataupun acara-acara khusus, Anda akan mendengan orang-orang berteriak 'Kampai!', selagi mengangkat gelas mereka dalam perayaan.

Kampai! Cara orang Jepang bersahutan sebelum meminum minuman beralkohol. (Foto: Fiona Yoshitake)
Kampai! Cara orang Jepang bersahutan sebelum meminum minuman beralkohol. (Foto: Fiona Yoshitake)

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Vicky Amin

Vicky Amin @vicky.amin632

A traveler, budding travel writer, and amateur author. Writing is my way to redo my amazing journey all over again. I started "Cheating the World" project and with it, I've made two of my annual trips in a form of a book: "Cheating Southern Vietnam", and "Cheating Hong Kong & Macau" (still in Bahasa Indonesia, sorry...). Japan? Of course it's on top of my writing list. It was too good to not be recorded.

Artikel asli oleh Fiona Yoshitake

Tinggalkan komentar