Pohon Plum Tangguh di Kuil Shinkoji

Simbol kekuatan dalam menghadapi tornado skala F2

Oleh Elizabeth S   

Sebuah kuil kecil Buddha aliran Shingon terletak tidak begitu jauh dari Taman Shimizu di kota Noda. Jepang penuh dengan kuil, tetapi Kuil Shinkoji memiliki harta alami dan budaya yang telah menghadapi ratusan tahun dan bencana alam yang langka.

Pada sebuah sore hari yang panas berawan di bulan September tahun 2013, awan di atas langit Tokyo berubah menjadi gelap dan mengerikan. Dalam hitungan menit, sebuah tornado menerjang Prefektur Saitama dan Chiba sepanjang 14 kilometer. Tornado dengan skala kecepatan F2 (kecepatan angin melebihi 250km/jam) menghancurkan Kuil Shinkoji, dan menerjang pohon bunga plum yang dicintai banyak orang. Beberapa waktu kemudian, Badan Meteorologi Jepang menduga kalau tornado yang bertanggung jawab atas kejadian ini.

Tornado menarik paksa atap rumah dan memecahkan jendela rumah di sepanjang wilayah, melemparkan reruntuhan sejauh ratusan meter. Atap dari Kuil Shinkoji hancur total akibat bencana tersebut. Pohon plum berusia 300 tahun yang berada di depan kuil selamat dari bencana, tetapi saudaranya yang lebih muda, yang terletak di sebelah utara beberapa meter dari pohon tersebut, tidak bernasib sama. Tornado yang memiliki sifat tidak terduga itu menyisakan satu pohon saja, dan menghancurkan semua pohon di sekitarnya hingga hanya batangnya saja.

Komunitas berkumpul di sekitar kuil untuk membangun kembali atap kuil yang rusak. Dan di tahun berikutnya, batang-batang kecil mulai tumbuh dari pohon yang rusak. Pepohonan yang bertahan hidup itu terus menghiasi taman dengan bunga-bunga yang beraroma wangi. Pohon plum yang tangguh ini mekar dalam kondisi terbaiknya di akhir Februari.

Selain pepohonan yang tangguh, kebanggaan dari kuil ini adalah Dewi Kannon berwajah sebelas, lambang dari belas kasih dalam tradisi Buddha, sebuah penghormatan untuk Kuil Naritasan Fudoin, dan sebuah galeri kecil yang dibuka berdasarkan permintaan.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Meytrizha Surjanto

Meytrizha Surjanto @meytrizha.surjanto

Artikel asli oleh Elizabeth S