Jelajah Kuliner: Nabe

Hidangan kuah hangat khas musim dingin

Oleh Vicky Amin   6 Feb 2016

Musim dingin sudah hampir tiba ketika saya sedang berwisata ke Jepang. Akhir November hingga pertengahan Desember memang salah satu waktu kunjungan terbaik, apalagi bagi wisatawan asal Indonesia, karena cuacanya tidak akan pernah kita rasakan di kota-kota besar Tanah Air. Plus, musim dingin adalah saat-saat dimana hidangan-hidangan kuah khas Jepang menjadi lebih nikmat disantap. Salah satu yang menjadi favorit saya adalah nabe.

Nabe secara harfiah berarti “hot pot” alias “panci”. Nabe ini semacam shabu-shabu, tapi jenis kuahnya berbeda. Kalau shabu-shabu menggunakan kuah bening, nabe memiliki kuah kental yang akan terasa jauh lebih lezat (dan lebih menantang) apabila ditambah dengan bumbu pedas. Di restoran-restoran nabe, Anda bahkan dapat memilih tingkat kepedasan kuah sesuai selera, mulai dari tingkat satu hingga sepuluh.

Berbicara soal restoran, mencari rumah makan nabe yang bagus ternyata tidak semudah mencari kedai ramen atau masakan khas Jepang lainnya. Apalagi bagi wisatawan asing, nabe bukanlah kuliner Jepang yang awam dan menjadi incaran—jadi kalau melintas di depan salah satu restoran nabe pun mungkin kita tidak akan menyadarinya. Untung saat itu saya sedang bersama teman-teman asli Jepang yang menetap di Tokyo, jadi mereka memperkenalkan saya dengan nabe, dan mereka tahu betul harus makan nabe dimana.

Restoran nabe menyerupai restoran shabu-shabu, dimana di atas masing-masing meja terdapat kompor untuk meletakkan panci marmer khas Jepang. Yang pertama-tama harus Anda lakukan adalah memesan kuah serta lauk apa saja yang ingin Anda masukkan ke dalam hidangan nabe Anda. Anda dapat memilih berbagai macam menu seperti daging ayam, ikan, cumi-cumi, kepiting, sayur-sayuran, serta jamur-jamuran. Sedangkan minuman yang paling cocok untuk mendampingi nabe adalah chuhai (minuman semacam sake) yang memiliki variasi rasa, seperti anggur, jeruk bali, atau leci.

Sebelum lauk-pauk tiba, kuah pesanan Anda akan hadir terlebih dahulu untuk dipanaskan di dalam panci. Anda bisa memesan lauk tambahan apabila merasa lauk pesanan Anda kurang banyak. Tentu saja, kuah Anda pun dapat ditambah apabila panci sudah mulai kosong. Kalau masih belum kenyang juga, orang Jepang akan mengakhiri santapan nabe mereka dengan memesan mie dan menceburkannya ke dalam kuah nabe yang tersisa. Cara ini biasanya ampuh untuk membuat perut berhenti mengeluh.

Menyantap nabe untuk makan malam di musim dingin merupakan sebuah pengalaman kuliner yang sangat unik dan berkesan. Dinginnya dapet, hangatnya juga dapet. Tapi bagi saya, selain hidangannya yang lezat, kenikmatan bersantap nabe juga terasa dalam proses memasaknya—apalagi kalau dilakukan bersama sekelompok teman. Mulai dari memasukkan seluruh lauk ke dalam kuah mendidih, bergantian mengajukan diri untuk menghidangkan makanan ke mangkuk orang-orang, sampai momen berebutan lauk yang berujung pada canda tawa, semuanya memperkuat kehangatan yang sebenarnya sudah sangat terasa hanya dengan menyantap nabe-nya saja.

Ditulis oleh Vicky Amin
JapanTravel Partner

Tinggalkan komentar