The Cafe di Machida

Kafe renovasi yang menyatukan orang-orang Machida

Oleh Min Jung Kim   

Pada sebuah malam yang dingin, saya sedang beranjak ke sebuah kafe ber-Wi-Fi yang selalu saya tempati untuk bekerja selama beberapa hari ke belakang. Selagi saya berbelok kiri, sebuah tangga dengan susuran kayu yang begitu tua menarik perhatian saya. Tangga-tangga ini mengarah ke sebuah bangunan tua yang terbuat dari bata-bata merah kecoklatan, dan di lantai duanya terdapat kafe bergaya antik nan aneh yang dinamakan... "The Cafe". Ketika saya berjalan menaiki tangga, saya diselimuti aura keabadian, yang terasa begitu tua, klasik, berpadu dengan yang baru dan modern. Dan ketika saya membuka pintu, atmosfer hangat menyeruak memasuki tubuh seolah-olah sang kafe mengajak saya untuk masuk.

Ruang di lantai dua kafe ini telah lama menjadi tempat istimewa bagi banyak orang di Machida sejak tahun 1958. Dulu, tempat ini dikenal sebagai 'Kissha Prince', sebuah tempat pertemuan yang populer. Meski sejumlah renovasi yang dilakukan beberapa tahun belakangan memberikan banyak perubahan, The Cafe masih mempertahankan beberapa memorabilia dari pendahulunya. Foto-foto dari masa-masa ketika bangunan itu masih bernama Kissha Prince menghiasi dinding, menyapa para pelanggan lama dengan nostalgia-nostalgia indah.

The Cafe mengadakan malam pementasan pertamanya pada sebuah malam di bulan Desember yang hangat, mengundang orang-orang Machida untuk datang dan menikmati latar musik jazz langsung. Saya menghadiri acara ini dengan para pelanggan lama kafe. Selagi kami menikmati camilan-camilan gurih dan minuman-minuman khas natal di samping makanan dan minuman favorit kafe, orang-orang ini menatap suasana sekeliling dan dinding-dinding yang masih familiar dan mulai berbagi kenangan mengenai Kissha Prince. Selagi mereka mengenang saat-saat itu, lampu meredup. Nada-nada melankolis dari trombon dan alunan gitar yang cemerlang mengiringi suara sang penyanyi yang dalam dan lembut, menyelimuti para tamu dengan atmosfer jazz yang kental.

Suasana di dalam kafe ini benar-benar menakjubkan, dengan berbagai macam tamu dari era yang berbeda datang berkumpul bersama. Seorang lelaki tua dengan topi musim dingin dan mantel panjangnya duduk di meja, seorang karyawan dalam setelan jas, sekelompok perempuan muda dengan minuman di tangan mereka. Salah satu tamu bahkan bergabung dalam pementasan dengan saksofon miliknya sendiri.

The Cafe tidak hanya memikat para tamu yang lebih tua, namun juga yang muda dengan menyediakan Wi-Fi dan colokan. Dengan cara ini, The Cafe memainkan perannya untuk menyatukan orang-orang Machida dengan sangat baik. Atmosfernya yang begitu unik sangat dinikmati oleh siapapun, dan acara-acara selanjutnya pasti akan sangat ditunggu-tunggu. Tak diragukan lagi, kafe ini menjadi salah satu favorit saya.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Vicky Amin

Vicky Amin @vicky.amin632

A traveler, budding travel writer, and amateur author. Writing is my way to redo my amazing journey all over again. I started "Cheating the World" project and with it, I've made two of my annual trips in a form of a book: "Cheating Southern Vietnam", and "Cheating Hong Kong & Macau" (still in Bahasa Indonesia, sorry...). Japan? Of course it's on top of my writing list. It was too good to not be recorded.

Artikel asli oleh Min Jung Kim

Tinggalkan komentar