Toko La Collina Omi-Hachiman

Pabrik Club Harie Baumkuchen

Oleh Eriko Fukui   

Gruu. Gruu. Saya mendengar suara itu lagi. Awalnya terdengar lirih, lalu semakin keras, kemudian lirih lagi dan keras lagi. Apakah seseorang sedang mendengkur? Seekor beruang? Tunggu... bangunan tidak mungkin hidup, kan? Setidaknya saya tidak berpikir begitu, sampai saya datang ke sini.

Jika tumbuhan dan pepohonan bisa bernapas, mengapa bangunan yang dibangun dari tanah dan kayu yang juga menutrisi pepohonan tidak bisa bernapas? Tampaknya sang arsitek telah mencoba menciptakan kembali ide bangunan hidup yang selaras dengan lingkungan. Anda tidak selalu bisa mendengarnya bernapas. Anda harus mengabaikan semuanya untuk bisa mendengarnya. Caranya, Anda bisa memeluk salah satu pohon yang seperti pilar, lalu menutup telinga Anda dan benar-benar diam. Sebenarnya bangunan ini mendukung keseluruhan ekosistem. Bangunan ini memiliki rambut rerumputan yang menutupi bagian atasnya, yang dipangkas rapi oleh penata rambut, maksud saya tukang kebun.

Didesain oleh Terunobu Fujimori, La Collina lahir pada tanggal 9 Januari 2015 sebagai pabrik kudapan manis. La Collina berarti bukit dalam Bahasa Italia, memberikan gambaran tentang ide dari arsiteknya, dengan atap seperti bukit yang dikelilingi oleh halaman berumput subur dan pegunungan berhutan. Jaraknya sangat dekat dengan Danau Biwa, danau terbesar Jepang. Bagi Fujimori, alam dan manusia adalah protagonis dari bangunan ini. Menggunakan bahan dari hutan lokal, serta perakitannya menghasilkan komunitas manusia dengan kecerdasan dan kreativitas.

Fujimori sendiri lahir di hutan Alpen Nagano, dan gaya arsiteknya yang berbau anak-anak dan tidak menghakimi dalam menggabungkan elemen alam dan manusia daripada mesin dapat dilihat dalam portofolionya. Dari Takasugi-an yang tak biasa, rumah minum teh yang terletak di dalam rumah pohon, hingga Lamune Onsen, minuman bersoda anak-anak dengan tekstur seperti gelembung sabun, karyanya mengubah pemikiran Anda tentang hubungan kita dengan lingkungan binaan.

“Bumi berbicara kepada kita semua, dan jika kita mendengarkan, kita bisa mengerti.” — Castle in the Sky, Studio Ghibli (1986)

Seperti rumput di atasnya, gedung ini juga tumbuh. Bekerja sama dengan petani lokal, mereka berencana membuka pasar petani, serta toko roti, restoran, dan toko kudapan manis lainnya di masa depan.

Di lantai pertama Anda bisa melihat mereka membuat baumkuchen dan dorayaki secara langsung. Melihat intensitas dan spiritualitas mereka dalam bekerja, jelas bahwa mereka tidak hanya membuat kudapan manis Jepang dan kue Jerman, tapi juga membuat kenangan.

Kayu yang digunakan untuk membangun pabrik ini menjadi cameo dalam pembuatan kudapan manisan itu sendiri. Ikutlah dengan saya dan lihatlah lusinan balok kayu yang dipajang. Meskipun terlihat seperti artefak kuno, sampai sekarang itu sebenarnya masih digunakan, dan juga oleh generasi-generasi sebelumnya sebagai cetakan wagashi, kudapan manis Jepang yang mencerminkan perubahan musim dan cara miniaturisasi alam Jepang, dengan penganan manis berbentuk burung bangau, kelinci, dan elemen alam lainnya. Balok kayu ini mengingatkan saya pada ikon Jepang lainnya; yaitu cetakan balok kayu untuk melukis, ukiyo-e.

Baumkuchen dibuat di Club Harie, yang didirikan pada tahun 1951 oleh Taneya, seorang pembuat wagashi. Pemiliknya berteman dengan William Merrell Vories (1880 - 1964), seorang misionaris Kristen dan pengusaha. Karena persahabatan mereka, mereka mulai membuat kudapan manis bergaya barat, dan tetap menjaga keotentikan resep tradisional mereka selama lebih dari 60 tahun.

Mereka juga membuat kue baumkuchen yang disebut baukemann. Dari atas kue ini menyerupai pohon yang telah ditebang, memperlihatkan cincin lingkaran tahun yang menjadi penanda waktunya di bumi. Simbol kehidupan dan umur panjang, bentuk cincin kawin Baumkuchen membuatnya menjadi suvenir yang populer di Jepang, melambangkan rasa terima kasih kedua mempelai atas kesempatan untuk merayakan hidup baru bersama.

Meskipun Anda bisa membeli baumkuchen di tempat lainnya di Jepang, Anda hanya bisa mempelajari sejarahnya dan merasakan secara langsung budaya saling bekerja sama di pabrik ini; yaitu tentang mencintai dan belajar dari alam, dan berhubungan dengan manusia. Mengapa tidak membuat kenangan Anda sendiri dengan hadiah dari toko ini?

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
1
Permata Dian

Permata Dian @permata.dian

I've been in love with everything related to Japan since I was child. 

Artikel asli oleh Eriko Fukui

Gabung diskusi