Stasiun JR Omiya

Gerbang utama dari kota Saitama

Oleh Febry Fawzi   

Stasiun Omiya merupakan penghubung utama yang berada di sebelah timur laut kota Tokyo dan juga merupakan pintu gerbang dari dan menuju Saitama. Stasiun yang lengkap ini dibuka pada tahun 1885 dan merupakan stasiun terbesar di prefektur Saitama, dengan melayani 11 jalur dari JR East, Tobu Railway, dan Saitama New Urban Line.

Lebih dari 200,000 orang berangkat dari stasiun ini setiap harinya. Hal ini membuat Stasiun Omiya sebagai stasiun tersibuk namun juga berfasilitas lengkap. Anda tak hanya bisa menemukan mini market/convenience store di sini namun juga pusat perbelanjaan, kafe, dan restoran. Sebenarnya fasilitas ini telah sangat membantu saya ketika menunggu pemberangkatan kereta. Saya bisa berjalan-jalan atau menikmati secangkir kopi di kafe. Anda memiliki bagasi? Jangan khawatir, saya juga memiliki masalah yang sama namun Stasiun Omiya telah menyediakan banyak lokel koin dengan berbagai ukuran. Hal itu sangat membantu ketika saya ingin menjelajahi kotanya.

Ada juga kantor tiket JR dan layanan perjalanan di lantai dasar, jadi Anda bisa menanyakan arah dan memesan tiket. Jangan lupa untuk mengambil brosur pariwisatanya atau peta lokal untuk membantu dalam jalan-jalan di kotanya.

Bagi Anda yang ingin berjalan-jalan di sekitar kota Saitama, Stasiun Omiya ini merupakan tempat terbaik untuk memulai perjalanan. Terletak di jantung kota, Anda tak hanya akan menemukan pusat bisnis atau distrik pusat perbelanjaan namun juga dekat dengan museum kereta yang terkenal itu, Kuil Hikawa sebagai kuil Shinto utama di wilayah Kanto, taman Omiya yang bersejarah, dan tentu juga Saitama Super Arena. Untuk perjalanan selanjutnya, Stasiun Omiya terhubung dengan berbagai macam tempat seperti Kawagoe, Kumagaya, Takasaki, dan Yokohama. Bahkan shinkansen juga bisa membawa Anda jaug ke Nagano, Niigata, Yamagata, dan Aomori, seluruhnya langsung dari Stasiun Omiya.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Febry Fawzi

Febry Fawzi @febry.fawzi

Trying to make the world home.

Artikel asli oleh Febry Fawzi

Tinggalkan komentar