Kuil Tsuyu no Tenjinja

Tiga cerita berbeda dalam satu kuil

Oleh Vicky Amin   12 Feb 2016

Ada terlalu banyak elemen yang bisa membuat Anda menyukai Tsuyu no Tenjinja. Berbicara soal lokasi saja, orang-orang sudah bisa merasakan atmosfer Shinto yang begitu kuat—gedung-gedung pencakar langit dan keriuhan khas Umeda pun tidak mampu meredam keberadaannya. Plus sejarahnya yang beragam dan luar biasa, saya rasa kuil ini tidak akan pernah kehilangan umatnya.

Tsuyu no Tenjinja tersembunyi secara anggun di balik hutan konkret Osaka. Saya masih dapat mendengar carut-marut lalu lintas dari seluruh pintu masuk kuil, dan suasana ramai Stasiun Umeda bahkan masih terbayang-bayang di benak saya. Tapi Tsuyu no Tenjinja seperti melindungi saya dengan 'kubah' kedamaiannya, mau segila apapun kekacauan di dunia luar sana.

Saya mulai menjelajah area kuil, sembari sekali-sekali bergumam kebingungan karena ada banyak cerita yang melatarbelakangi pembangunan Tsuyu no Tenjinja. "Apa sih inti dari kuil ini?" saya sampai bertanya pada diri saya sendiri. Saya pun mulai mencari-cari jawaban, dan perlahan-lahan mulai mengerti bahwa Tsuyu no Tenjinja memiliki salah satu sejarah terkaya di Osaka.

Semua dimulai lebih dari 1.300 tahun lalu. Pada masa kuno, ketika Osaka masih tersebar menjadi pulau-pulau kecil, kuil ini dibangun untuk memuja dewa Sumiyoshi Sumuchisone (yang sampai sekarang masih menjadi objek utama pemujaan di Tsuyu no Tenjinja). Selain aula utama, kuil ini juga memuja dua dewa lainnya.

Kuil ini belum memiliki nama hingga pada abad ke-10, ketika seorang cendikiawan dan menteri asal Kyoto, Sugiwara Michizane, berkunjung ke sini. Pada saat itu ia sedang diterpa kasus tuduhan palsu dan diasingkan oleh pemerintah. Selama menetap di kuil ini, ia menulis sebuah puisi yang menyatakan kekecewaannya, berbunyi "lengan baju ini pun harus basah oleh embun air mata yang saya teteskan kala mengingat Kyoto". Dalam Bahasa Jepang, "embun" berarti "tsuyu", dan kemudian kata itu pun menjadi nama resmi kuil yang dijadikan tempat penghormatan sang cendikiawan ini.

Meski demikian, Tsuyu no Tenjinja memperoleh popularitas tertingginya setelah sebuah peristiwa bunuh diri ganda yang dilakukan oleh sepasang kekasih terjadi di hutan belakang kuil. Sang wanita, yang bernama Ohatsu, mulai diasosiasikan dengan kuil ini sehingga namanya jadi lebih terkenal dibandingkan dengan nama aslinya. Sejak saat itu, kuil yang juga dikenal dengan nama "Ohatsu Tenjin" memperoleh peran keduanya sebagai kuil tujuan para pasangan yang berniat memperdalam cinta serta mempererat hubungan mereka.

Setelah menikmati seluruh sejarah di balik kuil ini, saya duduk di sebuah bangku batu dekat pintu masuk, menatap lekat-lekat seluruh bagian kuil, juga orang-orang yang sedang bersembahyang. Ketiga cerita yang menarik itu berpadu dengan begitu apiknya dalam satu bangunan kuil selama berabad-abad, menjadikan Tsuyu no Tenjinja sebuah tempat suci yang tidak pernah disepelekan orang-orang ini.

Dan saya sangat setuju dengan mereka, karena tidak di semua tempat di Jepang Anda bisa memuja dewa-dewi, menikmati sejarah, dan meminta masa depan yang baik untuk sebuah pernikahan—semuanya, secara bersamaan.

Ditulis oleh Vicky Amin
JapanTravel Partner

Tinggalkan komentar