Berburu Rebung di Yuzawa

Berburu santapan awal musim panas di gunung

Oleh Rufus Starbuck   27 Agt 2018

Di Daerah Bersalju aktivitas mencari makanan di gunung dulu biasanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi makanan yang diperlukan. Sekarang, kegiatan ini berubah menjadi sebuah hobi yang digemari oleh orang-orang setempat. Musim sayuran musim semi gunung telah usai, tapi ketika bunga-bunga yang berwarna pink muncul di semak-semak utsugi pada awal sampai pertengahan Juni, orang-orang setempat yang tinggal di gunung tahu kalau rebung bambu mulai menyembul keluar. Kantor Pariwisata Daerah Bersalju menyediakan sebuah tur yang memberikan kesempatan bagi orang-orang yang ingin merasakan pengalaman berburu rebung lezat ini.

Rebung-rebung yang ada di sini bukanlah rebung besar dan lebar yang biasanya terlintas dibenak orang-orang bila ada yang menyebut kata "rebung", tapi ini adalah jenis rebung dengan ukuran lebih kecil dan ramping yang biasanya terlihat menyembul di antara salju lereng tempat bermain ski saat musim semi. Dengan mengupas daun terluar yang keras dari rebung muda akan menyisakan bagian tengah lembut yang nikmat bila dimakan dalam bentuk tempura, dimasukkan dalam sup miso atau dicampur dengan nasi.

Pemandu kami adalah supir taksi setempat yang memiliki hobi berburu makanan di gunung (antusiasmenya dalam mencari dari satu tempat ke tempat lain setara dengan harga masuknya!), dan selama perjalanan kami berkendara dari Stasiun Echigo-Yuzawa menuju ke resor ski tempat kami berburu dia menceritakan berbagai pengalamannya mencari sayuran dan jamur gunung. Dia menyimpan semua perlengkapan berburunya di bagian belakang taksi, sehingga setiap kali ada kesempatan dia bisa langsung berburu!

Area mencari rebung berada tepat di samping resor ski setempat. Kami diperingatkan kalau kemungkinan tersesat di hutan bambu yang lebat ini selalu ada, jadi jika kami ingin mencari jalan keluar kami disarankan untuk mencari jalur kereta gantung yang digunakan untuk transportasi bermain ski. Cara berjalan pemandu kami menuruni lereng terjal untuk sampai ke semak bambu selincah seekor kambing gunung, sedangkan rombongan kami yang lain sering tergelincir dan berlumuran lumpur. Rebung bambu segar merupakan camilan favorit beruang, jadi perjalanan kami pagi itu diiringi dengan bunyi gemerincing lonceng pengusir beruang.

Pemandu menunjukkan kepada kami bentuk rebung bambu saat masih berada di atas tanah. Tak butuh waktu lama, mata kami segera terbiasa melihat semak bambu dari dekat dan akhirnya kami mulai bisa menemukan rebung bambu sendiri tanpa bantuan pemandu. Rebung tebal adalah rebung yang terenak dan jika kulit luarnya berwarna merah biasanya rebung tersebut memiliki tekstur yang lebih lembut. Rebung jenis ini bisa ditemukan di seluruh kawasan tapi rebung yang berasal dari area ini, mungkin karena ketinggiannya, memiliki rasa yang lebih manis dan tekstur yang lebih lembut dari pada rebung yang letaknya di dasar lembah.

Tidak mudah berjalan melewati hutan bambu yang lebat, tapi setelah beberapa langkah Anda bisa mulai membungkuk dan memasang mata Anda untuk mencari tonjolan-tonjolan pucuk rebung yang muncul dari dalam tanah. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk membiasakan diri dan saat tas kami hampir terisi penuh, kami mulai lebih selektif dalam memilih rebung yang kami ambil.

Setelah sekitar satu jam berburu rebung kami kembali menuju ke mobil, di mana di sana telah disiapkan kompor dengan sepanci sup yang sedang dimasak di atasnya. Kami belajar bagaimana caranya mengupas daun terluar rebung. Setelah itu kami mencelupkan pucuk-pucuk rebung ke dalam adonan dan kemudian menggorengnya. Bagian pangkal rebung yang lumayan tebal diiris tipis-tipis dan dimasukkan ke dalam sup miso. Makanan-makanan ini rasanya sungguh lezat. Mungkin karena kami harus bekerja keras terlebih dahulu untuk mencari rebungnya, sehingga makanan tersebut terasa jauh lebih nikmat. Selain itu duduk-duduk santai di hutan rimbun dengan udara yang masih segar juga merupakan sebuah kesenangan tersendiri.

Ditulis oleh Rufus Starbuck
JapanTravel Member
Diterjemahkan oleh Permata Dian

Tinggalkan komentar