Dontosai: Ziarah Setengah Telanjang

Festival telanjang versi Miyagi

Oleh Claire Northall   

Ketika kebanyakan orang menyambut Tahun Baru dengan berpesta pora, beberapa lainnya lebih memilih untuk merefleksikan diri dengan tenang, atau bagi rakyat Jepang, dengan berkunjung ke kuil. Namun selama "Dontosai" di Prefektur Miyagi sebelah timur laut Jepang, penduduk setempat menyambut Tahun Baru dengan api unggun dan ziarah setengah telanjang.

Setiap tahun sekitar tanggal 14 Januari selama festival Dontosai, orang-orang berkumpul untuk menyingkirkan nasib buruk mereka dan berdoa untuk kesehatan dan keberuntungan. Festival ini diadakan di hampir semua kuil di seluruh penjuru prefektur, namun yang paling tua dan yang paling terkenal dapat ditemukan di Kuil Osaki Hachiman di Kota Sendai. Pengunjung akan berkerumun di area kuil untuk membakar dekorasi Tahun Baru mereka di sebuah api unggun raksasa. Buku-buku agenda tua, foto-foto kenangan buruk, serta pernak-pernik apapun yang dipercaya mengandung aura negatif dari masa lalu akan dilempar ke api dan dipersembahkan untuk para dewa.

Jangan berlama-lama menghangatkan diri di dekat api unggun karena Anda bisa ketinggalan atraksi sesungguhnya dari Dontosai. Saksikan para peserta ziarah yang rela kedinginan, berbaris secara khidmat dari beberapa blok berkilo-kilometer jauhnya, melintasi jalan-jalan kota sebagai bagian dari ritual penyucian berusia 300 tahun ini. Meski prefektur lain memiliki "hadaka-matsuri" alias festival telanjang mereka tersendiri (seperti pemandangan telanjang di Fukushima), ritual berjalan kaki tradisional dengan peserta nyaris telanjang yang disebut dengan Hadaka-mairi menuju kuil ini merupakan yang paling unik di Miyagi.

Teman-teman kantor, klub-klub sekolah, atau organisasi-organisai biasanya membentuk kelompok mereka sendiri untuk berpartisipasi dalam acara ini. Para pria hanya akan mengenakan pakaian dalam tipis berwarna putih, ikat pinggang dari jerami, dan sandal dari jerami, sedangkan para wanita biasanya menambahkan jaket. Kulit yang terlihat bukan sama sekali tidak mengisyaratkan sesuatu yang berbau seksual, namun justru merupakan simbol kesucian. Sehelai kertas tipis disumpal dengan rapat di antara bibir untuk mencegah gigi saling berhantaman karena menahan dingin. Selagi mereka secara cepat dan tabah menjalani prosesi, para peziarah membawa lonceng tangan untuk mengabarkan kehadirannya dan lentera untuk menyinari langkahnya. Ombak manusia yang menyaksikan festival ini akan memperlakukan para peserta ziarah dengan sangat istimewa, memberi mereka jalan menuju kuil tanpa hambatan. Setelah memanjat tangga yang curam menuju bangunan kuil tujuan, para peziarah berkumpul di peron suci untuk mengambil sake dan berkat dari sang pendeta. Di kota-kota di luar Sendai, seorang pendeta mungkin memiliki pengikut yang akan melemparkan seember air dingin pada para peziarah. Para peserta ini akan melakukan lari terakhir menuju bagian depat kuil dan mengelilingi api unggun untuk prosesi penyucian terakhir. Mereka akan melempar ikat pinggang mereka ke api, mengusir iblis apapun yang menggentayangi tali tambang sebelum akhirnya semua orang lari dari cuaca dingin dan kembali ke rumah atau melanjutkan perayaan di restoran sekitar.

Setelah melihat para peziarah dan memanjatkan doa di kuil, atraksi serius nomor tiga dari festival ini, tak lain dan tak bukan, adalah makanannya. Pengunjung yang datang untuk melihat festival tidak perlu khawatir untuk menemukan restoran, karena ada banyak sekali pilihan di sekitar area festival. Pengunjung dapat mencoba takoyaki, yakisoba, ayam bakar, atau sake hangat dari hamparan stan makanan yang berbaris di sepanjang jalur kuil.

Dontosai dan Hakada-mairi adalah tradisi unik Miyagi yang harus dilihat apabila Anda berkunjung ke Sendai pada pertengahan bulan Januari. Harap diingat bahwa cukup sulit bagi pengunjung yang ingin berpartisipasi dalam ziarah ini, karena koneksi dan kemampuan berbahasa Jepang sangatlah dibutuhkan. Bagaimanapun juga, datang sebagai penonton tentu saja diperbolehkan. Kalau Anda datang ke sini, pastikan untuk membawa pakaian hangat tambahan, sesuatu untuk dibakar, dan banyak koin untuk memanjatkan doa Tahun Baru dan makanan di kuil.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Vicky Amin

Vicky Amin @vicky.amin632

A traveler, budding travel writer, and amateur author. Writing is my way to redo my amazing journey all over again. I started "Cheating the World" project and with it, I've made two of my annual trips in a form of a book: "Cheating Southern Vietnam", and "Cheating Hong Kong & Macau" (still in Bahasa Indonesia, sorry...). Japan? Of course it's on top of my writing list. It was too good to not be recorded.

Artikel asli oleh Claire Northall

Tinggalkan komentar