Kokujiyaki

Keramik cantik dari utara Jepang

Oleh Mifthanzi Ariana Sarashanti   

Di sebelah barat laut Prefektur Iwate, terdapat industri keramik tradisional yang masih mempertahankan desain asli dan metode pembuatannya. Berawal di abad ke-18, keramik Kokujiyaki berasal dari kota Kuji, Prefektur Iwate, yang terletak di utara Pulau Honshu. Kokujiyaki didirikan oleh Jin-eimon Kumagai pada akhir periode Edo (1600-1867). Setelah belajar di pusat pembuatan keramik Jepang yang saat itu terletak di bagian timur Jepang, dia membuat ruang kerjanya sendiri di kampung halamannya, Kuji.

Jin-eimon Kumagai menyadari bahwa tanah liat yang terdapat di daerah Kuji cocok untuk bahan baku pembuatan keramik. Tanah liat Kuji yang hingga saat ini masih digali dengan cara tradisional memiliki banyak karakteristik spesial. Salah satunya adalah apabila dibakar secara langsung, maka warnanya akan berubah menjadi putih. Selain itu tanah liat dari Kuji mengandung sedikit zat besi, sehingga menimbulkan perubahan warna yang klasik setelah melalui proses pembakaran.

Metode tradisional masih digunakan untuk menghasilkan keramik. Tanah liat yang diambil dari sumbernya dipisahkan dari pasir dan kotoran lainnya dan kemudian dicetak dalam bentuk blok. Galeri dan bengkel Kokujiyaki berlokasi di lembah gunung yang selalu terasa dingin meskipun di musim panas. Perhitungan harus dilakukan untuk mencegah tanah liat dari kebekuan pada musim dingin dan musim salju. Di musim-musim yang lebih hangat, tanah liat yang sudah berbentuk blok dibungkus oleh plastik untuk mempertahankan kelembaban. Sedangkan pada musim dingin, tanah liat tersebut ditutupi oleh selimut listrik untuk menghindari kebekuan.

Pengunjung dapat merasakan langsung cara pembuatan keramik dengan bantuan para pengrajin di bengkel seni ini. Keramik yang sudah selesai akan dikeringkan secara alami dan berbagai glasir dapat diaplikasikan sesuai keinginan sebelum akhirnya dibakar pada proses terakhir. Selain menyaksikan pembuatan keramik di bengkel, pengunjung juga dapat melihat tungku tradisional yang disebut dengan noborigama. Setelah api dinyalakan pada bagian dasar, maka panas akan 'memanjat' ke bagian atas tungku. Dibutuhkan lebih dari satu hari bagi tungku ini untuk melakukan proses pembakaran pada suhu 1200 derajat Celcius. Tanah liat yang masih segar digunakan untuk menguji apakah setiap lapisan tungku noborigama sudah berada pada suhu yang pas. 

Proses pembuatan keramik dari awal hingga akhir membutuhkan waktu yang cukup panjang, yaitu setidaknya dua bulan. Bentuk umum dari keramik Kokujiyaki meliputi guci, vas, gelas, mangkok, piring, dan sebagainya yang membawakan ciri khas tradisional. Mangkuk dan guci khas Kokujiyaki sudah dikenal luas semenjak periode Edo. Bahkan pada abad ke-19, Muneyoshi Yanagi, pendiri pergerakan seni tradisional Mingei turut memuji keindahan keramik Kokujiyaki.

Di samping melihat dan berpartisipasi dalam pembuatan keramik Kokujiyaki, pengunjung juga dapat menikmati kecantikan produk-produk yang telah dibuat sejak periode Edo. Keunikan warna dan gaya dari keramik Kokujiyaki masih bertahan hingga saat ini. Pengunjung dapat merencanakan kunjungan lewat pemesanan khusus.  

Jam operasional untuk pembuatan keramik.

Senin - Minggu 09.00 - 15.00

Kontak

Tel: 019-452-3880

E-mail: kokujiyaki@mist.ocn.ne.jp

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Mifthanzi Ariana Sarashanti

Mifthanzi Ariana Sarashanti @mifthanzi.ariana.sarashanti

Indonesian who loves traveling, writing, and photography.

Artikel asli oleh Mifthanzi Ariana Sarashanti

Tinggalkan komentar