Pedesaan Tua Shunran-no-Sato

Desa pegunungan dengan pengalaman pertanian otentik

Oleh Tristan Scholze   

Seperti apa kehidupan pertanian pedesaan seabad yang lalu di Jepang? Anda dapat merasakan jawabannya sendiri di pegunungan dekat kota tepi laut kecil Noto, tempat yang ideal untuk terhubung dengan warisan pertanian yang kaya di sini. Tempat ini juga menjadi basis untuk eksplorasi Semenanjung Noto dan garis pantainya yang indah, pasar yang berkembang pesat, dan kerajinan tradisional. Ada banyak hal yang bisa dilihat dan dilakukan pada musim apa pun. Noto memiliki sejarah panjang dalam memancing, dan ikan ekor kuning dewasa yang ditangkap pada musim dingin, yang dikenal sebagai kamburi, sangat menonjol. Produk lokal lainnya termasuk kecap, garam laut, blueberry, stroberi, dan sake, serta festival api dan perayaan thanksgiving. Dan tentu saja, pedesaannya penuh dengan persawahan menawan yang diselingi dengan perbukitan dan pegunungan berhutan, menjadikan Noto tujuan yang tepat bagi pengunjung yang ingin terhubung dengan alam Jepang.

Foto area Warisan Pertanian Dunia: Desa Shunran
Foto area Warisan Pertanian Dunia: Desa Shunran

Hal Penting dari Utara

Bagian paling utara Prefektur Ishikawa dan Semenanjung Noto, yang dikenal sebagai Oku-Noto, menonjol terutama karena garis pantainya -- dengan pemandangan, pantai, dan area berenang yang indah. Pesisir luar, menghadap Laut Jepang, memiliki medan terjal yang paling terkenal di semenanjung.

Rute Nasional 249 mengikuti pantai luar dan menuju barat, membawa Anda melewati Pantai Nafune, di mana Anda akan menemukan Batu Jendela dan Air Terjun Tarumi, lalu Pantai Sosogi, dengan sawah terasering Shiroyone Senmaida yang menghadap ke laut. Yang terakhir adalah situs UNESCO yang terdiri dari seribu sawah milik individu, indah dikunjungi setiap musim.

Sedikit lebih jauh lagi, Anda akan tiba di Wajima, yang memiliki pasar pagi yang sudah ada sejak satu milenium silam hingga Zaman Heian, dan ada juga ruang pamer untuk pernisnya yang terkenal.

Sepanjang pantai bagian dalam semenanjung dihuni oleh desa-desa nelayan, di mana air yang lebih tenang membantu industri perikanan lokal yang berkembang pesat. Pantai Koiji adalah yang terdekat dengan kota Noto dan memiliki pasir putih serta ombak yang lembut. Teluk Tsukumo memiliki lembah sungai tenggelam menarik yang dikenal sebagai pantai ria, yang terdiri dari 99 teluk kecil.

Tradisi dan festival kuno terus berlangsung di Noto. Amamehagi adalah festival musim dingin di mana para goblin atau setan menakut-nakuti anak-anak yang malas dan meningkatkan motivasi untuk menyelesaikan pekerjaan musim semi. Juga pada musim dingin, dengan ritual Aenokoto, para petani menyambut arwah sawah ke dalam rumah mereka sebelum mengantar mereka ke luar sebagai tanda terima kasih. Selama musim panas, festival lentera Kiriko di seluruh wilayah akan menerangi malam.

Lihat bagaimana rasanya menanam padi dengan tangan
Lihat bagaimana rasanya menanam padi dengan tangan

Menginap ala Petani di Noto

Untuk sampai ke jantung daerah pedesaan semenanjung ini, lihat lebih jauh ke pedalaman ke Miyachi di pegunungan tengah, di mana Anda dapat menemukan Shunran-no-Sato yang indah, atau "Desa Anggrek Liar," dengan lebih dari 40 rumah pertanian -- beberapa dengan sejarah lebih dari seratus tahun. Tempat-tempat ini merupakan wisma yang menawan di mana penduduk setempat siap menyambut Anda. Inisiatif ekowisata di sini awalnya dimulai dengan tujuan membalikkan tren orang muda yang berangkat ke kota besar, meninggalkan generasi pertanian yang lebih tua, dan kemampuan Shunran-no-Sato untuk menyediakan surga pedesaan di Jepang telah menunjukkan daya tarik yang besar bagi pengunjung asing juga.

Akomodasi rumah pertanian , Shunran-no-Sato
Akomodasi rumah pertanian , Shunran-no-Sato

Berpartisipasilah dalam gaya hidup pertanian lokal selama Anda berada di sini dengan memetik buah beri, berpartisipasi dalam penanaman padi, dan membuat arang. Untuk makan malam, berkumpul di sekitar irori, perapian tua untuk makanan yang disajikan dengan pernis Wajima yang bagus.

Kegiatan musiman lainnya termasuk pendakian di pegunungan untuk mengumpulkan tanaman liar yang dapat dimakan pada musim semi dan mengalahkan panasnya musim panas di tepi sungai kemudian melihat pertunjukan kunang-kunang yang mempesona pada malam hari.

Selama musim gugur, jamur bisa dipetik sambil menikmati warna musim gugur. Sedangkan pada musim dingin, tuan rumah Anda akan menunjukkan cara membuat pondok salju yang nyaman.

Makanan yang ditawarkan di desa Shunran-no-Sato mengikuti budaya diet tradisional yang telah diakui sebagai Warisan Pertanian Penting Secara Global di bawah Organisasi Pangan dan Pertanian PBB. Tanaman sansai yang liar namun dapat dimakan di sini merupakan bagian inti dari masakan ini dan tumbuh menggunakan air bersih yang melimpah di daerah Noto.

Tarif untuk menginap di Shunran-no-Sato mulai dari ¥4,860 per orang (untuk rombongan 3 orang lebih) tanpa makan. Namun untuk memanfaatkan semaksimal mungkin makan malam dan sarapan sangat direkomendasikan, mengingat bahan-bahan lokal merupakan bagian penting yang berhubungan erat dengan Noto. Diskon tersedia untuk anak-anak usia sekolah dasar atau lebih muda, serta pemesanan rombongan yang lebih besar. Fasilitas dasar disediakan.

Silakan saksikan video ini untuk melihat lebih jelas pengalaman menginap di Noto!

Cara ke sana

Hanya butuh penerbangan yang sangat singkat dari Tokyo ke Bandara Noto, yang berjarak 20 menit naik taksi dari Shunran-no-Sato. Dari Stasiun Kanazawa (yang memiliki halte Shinkansen), dibutuhkan waktu kurang dari 4 jam dengan bus atau kurang dari 2 jam dengan mobil.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Novia Mardasari

Novia Mardasari @novia.mardasari

From Indonesian. Always has reason to visit Japan every year. I'm particularly fond of exploring off the gardens, tea houses, unique dessert, place with good view for enjoy the tea hahaI love learn new things and travelling. My life goal is to learn as many languages as possible! (and visit so many country, of course:) )I like Dango, Berries and Matcha !!!!!!

Artikel asli oleh Tristan Scholze

Tinggalkan komentar