Teater Tradisional Jepang

Perkenalan singkat noh, kabuki, dan bunraku

Oleh Anne Lauenroth   24 Feb 2016

Teater Jepang memiliki sejarah yang panjang dan kaya, namun ide untuk mengunjungi pentas teater di sebuah negeri asing sepertinya terasa sedikit menyeramkan. Dengan adanya rasa takut akan kesulitan mengikuti jalan cerita di panggung karena perbedaan bahasa dan budaya, tidak sedikit calon penonton yang tidak mau mengambil risiko untuk merasa kecewa dan pada akhirnya memutuskan untuk melewatkan kesempatan besar menikmati salah satu karya seni besar Jepang – apalagi karena sebenarnya banyak teater yang memiliki fasilitas untuk mengakomodir penonton internasional dan membuat pementasannya dapat dimengerti oleh siapapun.

Panduan ini dapat dijadikan sebagai sebuah perkenalan mengenai bentuk-bentuk pentas teater Jepang yang berbeda, dan bertujuan untuk memandu dalam pengambilan keputusan mengenai pementasan apa yang paling cocok untuk Anda saksikan.

Noh

Bermula pada abad ke-14, noh merupakan bentuk teater tertua yang masih dipentaskan hingga hari ini dan menjadi bagian dari "Warisan Budaya Non-benda (Intangible Cultural Heritage) UNESCO". Tak seperti adiknya, kabukinoh tak pernah menjadi hiburan untuk publik, dan hanya ditujukan pada warga kelas atas. Shogun Ashikaga Yoshimitsu adalah yang pertama dari banyaknya penggemar terbesar dan penyokong setia noh. Semasa Zaman Tokugawa (1603-1868), noh mempertahankan perannya sebagai sumber hiburan bagi para kaum elit. Selama berabad-abad, bahasa dan gaya penyampaian dari pentas-pentas noh banyak yang terkodifikasi, bahkan hingga sekarang.

Secara tradisional, pentas noh memakan waktu yang sangat panjang. Satu program terdiri dari lima babak yang berbeda, dengan diselingi komedi kyogen pada saat pergantian babak. Meski sekarang pementasannya cenderung lebih pendek (bagaimanapun juga, penonton yang hadir sekarang bukan lagi tuan-tuan feodal beserta rombongan pelayan dan budak-budak yang melayani para majikan ketika mereka sedang menikmati teater), tidak banyak yang berubah dari pertunjukan nohNoh merupakan sebuah pementasan yang dimainkan perlahan-lahan, cenderung menyerupai sebuah upacara, dimana emosi disampaikan dengan gestur-gestur yang diperagakan dengan gaya yang apik.

Kodifikasi dalam pementasan noh selanjutnya ditekankan oleh para pemainnya yang menggunakan topeng, salah satu hal penting dari pertunjukan noh. Topeng-topeng ini mewakili wanita, anak-anak, orang tua atau hantu, dan ekspresinya dapat berubah hanya dengan menggerakkan kepala sedikit. Dari dulu para tokohnya selalu diperankan oleh laki-laki, dan meski secara teori perempuan bisa saja bermain di pementasan noh masa kini, tradisi yang sama terus saja berlaku dalam teater kuno ini.

Pementasan noh seringkali mengadopsi dongeng tradisional, termasuk elemen-elemen supranatural. Tokoh protagonis (shite) dan lawan mainnya (waki) didampingi oleh sebuah paduan suara (jiutai) berisi 6-8 orang dan sekelompok pemain musik (hayashi) dalam kostum tradisional kimono dan hakama, memainkan seruling dan gendang.

Karena tidak ada tirai dalam teater noh dan penerangan biasanya selalu dinyalakan selama pementasan, para penonton dapat melihat para pemain keluar-masuk panggung melalui sebuah jembatan (hashigakari). Meski tidak ada latar tempat buatan, para aktor yang mengenakan kostum rumit dilengkapi dengan properti-properti seperti kipas.

Penggemar teater dapat menyaksikan noh di National Noh Theater Tokyo, Ohtsuki Noh Teater di Osaka, atau, dengan sedikit keberuntungan dan perjuangan, di salah satu panggung luar ruang yang cantik di kuil-kuil.

Ketika kami mengunjungi Ohtsuki Noh Theater dekat Kastil Osaka pada tahun 2013, saat itu tidak ada panduan audio berbahasa Inggris, namun teaternya menyediakan informasi rinci mengenai seni noh dan pementasannya itu sendiri dalam bentuk selebaran berbahasa Inggris.

Kabuki

Mirip nohkabuki juga merupakan bagian dari "Warisan Budaya Non-benda Kemanusiaan". Lucunya, apa yang saat ini disajikan oleh bentuk teater Jepang yang paling terkenal ini tumbuh sebagai kebalikan dari "kekakuan" noh. Kabuki diciptakan untuk "mengejutkan" penonton dengan cerita-cerita yang lebih modern dan bersemangat. Kalau noh merupakan seni tingkat tinggi di Zaman Tokugawa, kabuki merupakan penanda kelahiran budaya populer. Orang-orang dari kelas-kelas yang berbeda membaur di dalam teater. Tentu saja, mereka yang bergelar shogun pun tidak lagi menjadi penggemar dari pertunjukan teater ini.

Pada awal-awal kemunculannya setelah pementasan pertama tahun 1603, kabuki merupakan wilayah para wanita. Perpaduan musik, drama, dan tarian, kabuki wanita hanya bertahan selama 26 tahun sebelum akhirnya dilarang pada tahun 1629 karena terlalu erotis. Solusi yang ditawarkan (mengganti para pemeran wanita dengan pria-pria muda) tidak menyelesaikan masalah yang berkaitan erat dengan kabuki, sehingga berdampak pada mendominasinya pemeran pria yang lebih tua, serta berubahnya fokus pementasan dari tarian menjadi drama.

Meski beberapa rombongan pemeran wanita masih ada di Jepang hingga hari ini, kabuki masih dikaitkan dengan para pria yang memainkan semua peran. Para pria yang memainkan peran wanita dipanggil dengan sebutan onnagata, dan merekalah bintang utama dari pementasan kabuki. Dengan kostum megah nan rumit, para pemeran kabuki tidak mengenakan topeng, namun memakai riasan wajah putih yang khas dengan warna-warna tertentu (merah untuk para pahlawan, dan biru untuk para penjahat).

Meski terkesan lebih modern dari pada noh di Zaman Tokugawa, kabuki yang bisa Anda lihat hari ini perlahan-lahan menjadi jauh lebih bergaya. Untuk membangun karakter, para aktor memeragakan pose-pose berani nan berlebihan yang disebut mie, yang kalau dilakukan dengan benar dan mengesankan, para penonton akan meneriakkan nama aktor tersebut.

Kini, kabuki juga dianggap sebagai seni kelas tinggi, namun kabuki selalu dikenal dengan pemanfaatan efek-efek khusus yang mengagumkan, seperti panggung yang berputar, pintu-pintu jebakan, lift dan benda-benda mekanis lainnya untuk efek yang mengejutkan dan perubahan yang mendadak. Dengan bumbu-bumbu menyerupai film-film blockbuster modern, kabuki menyajikan cerita-cerita yang beragam, dari yang berbau sejarah ("The 47 Ronin") hingga kehidupan sehari-hari. Secara tradisional, kabuki telah banyak berbagi cerita dengan bunraku, karena keduanya sama-sama saling mempengaruhi. Selama bertahun-tahun, banyak pementasan bunraku yang diadaptasi ke kabuki, begitu pula sebaliknya.

Tamu-tamu internasional dapat menikmati pementasan kabuki di Kabuki-za Theater di Ginza, Tokyo, yang menggunakan sistem teks subtitle yang sangat membantu, alih-alih panduan audio biasa.

Bagi para penggemar kabuki yang lebih menyukai setting tradisional, Kanamaru-za alias Konpira Grand Theater di Kotohira mengadakan pementasan di sisa-sisa teater kabuki tertua di Jepang selama sebulan dalam setahun, biasanya ketika musim semi. Pada musim-musim lainnya, teater dibuka untuk publik (termasuk bagian belakang panggung), menjanjikan pengalaman menakjubkan bagi pencinta teater.

Bunraku

Terakhir, ada bunraku, teater boneka tradisional Jepang. Dikenal pula dengan nama ningyo joruri, pementasan bunraku pertama diadakan di Osaka pada tahun 1684.

Bunraku tidak memiliki banyak kesamaan dengan teater boneka barat. Boneka-bonekanya, yang tingginya bisa mencapai 1.5 meter, digerakkan oleh tiga dalang yang pergerakannya harus harmonis agar karakter bonekanya terlihat hidup. Kepala dalang bertugas menggerakkan tangan kanan dan kepala boneka, dalang kedua menggerakkan tangan kiri, dan dalang yang satu lagi bertugas menggerakkan bagian kaki. Ketiga dalang bertugas di atas panggung, sehingga dapat dengan jelas dilihat para penonton. Agar tidak mengecohkan pementasan, dalang yang menggerakan tangan kiri dan kaki mengenakan kostum hitam, lengkap dengan tudung. Hanya sang kepala dalang yang tidak mengenakan tudung, sebagai simbol dari latihan bertahun-tahun sehingga mampu meraih posisi terhormat ini.

Kepala-kepala boneka yang canggih ini terbuat dari kayu, dan ekspresinya dapat berubah apabila cerita dalam pementasannya menjadi berbau supranatural.

Di sisi panggung terdapat sang penyanyi (tayu) dan pemain shamisen, dimana keduanya juga menjadi bagian penting pementasan. Hanya ada seorang tayu dalam satu pementasan, dan sudah menjadi tanggung jawabnya untuk membuat sang boneka hidup. Sang penyanyi inilah yang mengisi suara para boneka dengan berbagai macam jenis suara untuk meningkatkan dampak emosional pada pementasan. Pekerjaan yang amat menantang, dan melelahkan.

Bunraku, yang memiliki banyak kesamaan cerita dengan kabuki, terkenal dengan kisah-kisah tentang aksi bunuh diri pasangan yang tidak ditujukan untuk anak-anak, meski menggunakan boneka dalam pementasannya. Kalau kabuki menawarkan kesempatan pada para pemerannya untuk bersinar, bunraku merupakan bentuk teater yang lebih loyal.

National Bunraku Theater di Osaka memiliki panduan dengan alat pendengar untuk para tamu internasional agar dapat mengikuti alur cerita, sekaligus menjadi sumber informasi mengenai arti-arti simbolis penting serta musik-musik yang muncul dalam pementasan, agar dapat dimengerti dan diapresiasi.

Untuk penggemar internasional bunraku yang tertarik untuk belajar lebih banyak mengenai seni yang unik ini, Tonda Puppet Troupe di Prefektur Shiga memiliki program pertukaran pelajar internasional yang dapat Anda ikuti.

Ditulis oleh Anne Lauenroth
JapanTravel Member
Diterjemahkan oleh Vicky Amin

Tinggalkan komentar