Teh Sore di British Hills

Atmosfir Inggris tanpa harus meninggalkan Jepang

Terletak di kedalaman hutan Hatoriko di Fukushima, British Hills (Bukit Inggris), resor seluas 600 hektar dibangun di tahun 1994 sebagai tempat bagi warga Jepang untuk menghabiskan waktu dalam lingkungan berbahasa Inggris tanpa harus meninggalkan negerinya. Sebagai warga asli Inggris, saat pertama kali mendengar mengenai British Hills ini saya merasa tertarik hingga akhirnya teman saya menyarankan agar kami mengunjungi tempat ini, saya sambut ide tersebut dengan suka cita.

British Hills berjarak 40 menit dari kota terdekat dan untuk mencapainya perlu mengendarai mobil dengan menanjak disertai angin gunung. Saya tidak menyadari akan seterpencil ini resor tersebut, tapi memang tempat ini b=di tempat entah berantah. Dibangun diketinggian 1000 meter dari permukaan laut, membuatnya memiliki cuaca yang sama dengan Dataran Tinggi Scotland – yang mana sekalipun di saat terpanas musim panas, tetap akan terasa sedikit dingin. Saat musim dingin, seluruh area diselimuti dengan salju tebal, tapi bagaimanapun juga British Hills dibuka sepanjang tahun.

Resor ini seharusnya mengikuti model tata letak seperti desa Inggris di abad pertengahan, dengan beberapa koleksi bangun berkayu yang mengelilingi rumah bangsawan. Saya tidak yakin gaya bangunan bisa digambarkan sebagai sesuatu yang benar-benar otentik, namun jelas terlihat ada banyak usaha yang telah dilakukan dan menaruhnya dengan rinci (detail), contohnya box telpon merah yang di taruh di luar ruang teh desa ini.

British Hills secara khusus sudah dikenal oleh sekolah-sekolah dan grup dari perusahaan, yang mana datang kesana untuk diajarkan bahasa Inggris dengan para penutur asli (native speakers). Semua pengajar dan sebagian besar para pekerja di datangkan langsung dari negeri negeri persemakmuran, sehingga para tamu di layani dengan menggunakan bahasa Inggris sejak kali pertama mereka menjejakkan kaki disana.

Ketika saya dan teman saya datang berkunjung, resor tersebut baru saja hening dari keramaian, karena sekelompok besar grup baru saja keluar (check-out). Kami masuk ke The Ascot demi minum the manhal dan makan kue. Saya menikmati duduk di sofa berlengan dan menyapu pandangan ke sekitar ruang the yang nyaman, di lengkapi dengan balok kayu gelap di langit-langit dan mini Union Jack menghiasi tiap meja, mendapat perasaan aneh seperti terperangkap di ruang antara Disneyland dan Inggris.

Selanjutnya, kami menyusuri rak-rak di Ye Shoppe, yang menjual berbagai variasi cinderata mata dengan tema British, termasuk biscuit-biskuit kaleng, the, dan fudge. Sementara itu Yen adalah mata uang yang berlaku, harga dicantumkan dengan dua harga, Yen dan Pound sterling, untuk memberikan kesan di luar negeri.

Rumah bangsawan adalah bangunan batu besar dan mengesankan di jantung resor, meskipun sayangnya sempat saya berpikir seperti penjara dari luar. Kami melangkah masuk kedalam ruangan dan mendapati diri kami berada di ruang mewah berhiaskan gaya Victoria di pintu masuk aula, lengkap dengan perapian terbuka dan sofa kulit yang mewah.

Menurut website British Hills, ketika tamu pertama kali check in di resor, staf akan menciptakan proses melewati imigrasi bandara Heathrow. Saya tidak yakin bagaimana mereka mengarahkan untuk mendapat pengaruh ini (yang biasanya penuh tekanan) dengan lingkungan mewah seperti itu, tapi tentu terdengar sangat menarik.

Kami memutuskan untuk tidak membayar jasa pemandu wisata di rumah bangsawan, yang di tawarkan oleh seorang staf Kanada di meja resepsi. Malahan kami melakukan hal-hal standar layaknya orang Inggris dan pergi ke bar, yang menyajikan makanan ringan dan lebih dari 10 jenis bir. Tidak ada menu vegetarian, akhirnya saya memilih sepring kentang goreng dan membayangkan seluruh pengalaman aneh ini.

British Hills memiliki konsep yang sangat menarik, dan saya yakin ini menjadi tempat yang sangat menarik dan akan meninggalkan kesan yang mendalam, bagi warga Jepang yang ingin pergi ke Inggris namun tidak memiliki uang ataupun waktu. Menurut saya pribadi, saya mendapatkan keseluruhan atmosfirnya hamper mirip dengan aslinya. Saya merasa berada dalam sebuah setting film di waktu yang membingungkan.

Saya tentu tidak sedang berada di Inggris, tapi untuk beberapa saat saya tak yakin sedang berada di Jepang juga.

0
0

Tinggalkan komentar