Penjual Ubi Keliling

Penjual Jepang berkonsep mirip truk penjaja es krim

Oleh Stacy Kurokawa   

Sebuah suara sayup-sayup terdengar dari kejauhan, berhenti, dan kemudian terdengar lagi. "Saya rasa saya mendengarnya! Ayo kita masuk kembali ke dalam mobil!" Saya membuka semua jendela. Hari itu adalah hari-hari awal cuaca hangat tahun itu. Kami kemudian kembali lagi menuju ke Stasiun Tobu Minami Utsunomiya. Kami membuka telinga lebar-lebar. "Dia pasti ada di sekitar sini," Gumam saya saat memarkirkan mobil di sebuah toko serba ada di sekitar sana. Kami duduk di dalam menunggu dan mendengarkan. Kereta lewat. Burung-burung bercicit. Mobil-mobil berlalu. "Yakiiiiimoooo...." Kami memandang satu sama lain. "Itu dia! Cepat! Dimana dia?" Saya menutup semua jendela, lalu bergegas mencari kamera, dompet dan kunci saya. Kami berlari ke arah asal teriakan yang terus berulang-ulang tersebut.

Sebuah truk putih kecil yang dipenuhi dengan kayu bakar, barel dan kompor berhenti di tepi jalan. Suara itu berhenti lagi. Penjual yaki-imo yang bercelemek tersenyum dan menyapa kami. Dua minggu yang lalu, kami membeli dua buah ubi dari penjual tersebut di jalan yang sama. Dia melewati jalan itu pada sekitar jam yang sama, dan dia akan terus melakukannya sampai cuaca hangat berakhir di bulan Mei. Saya mencacat di kalender saya untuk mencarinya pada sekitar jam 4:30 sore.

Satu ubi, yang dibakar di atas batu bara di bagian belakang truk pickup kecil, harganya ¥250. Saya kemudian mengambil uang koin dari dompet saya. Lalu penjual tersebut mengangkat tutup oven yang memperlihatkan berlusin-lusin ubi ungu di atas tempat tidur panas mereka dengan batu bara di bawahnya. Saya bisa mencium aroma ubi tersebut dan saya juga bisa mencium bau bakaran api. Setelah itu penjual tersebut memberikan pada saya ubi yang sudah saya bayar, lalu dia berpindah ke sisi lain untuk memasukkan potongan kayu bakar ke dalam kompor. Bara api yang ada menyala-nyala kembali. Saya memegang harta hangat saya yang ada di dalam sebuah pembungkus kertas coklat tepat di dada saya. Ukurannya cukup besar untuk dinikmati satu keluarga dengan tiga orang di dalamnya. Kami memakannya di rumah dengan menggunakan sendok. Ubi bakar ini mempunyai tekstur dan rasa manis seperti kue keju.

Saya dulu sebelumnya pernah tinggal di Korea. Di sana saya bisa membeli teh jeruk seduh kental dengan madu dan kulit jeruknya di pedagang kaki lima saat musim dingin, panekuk manis dengan saus kayu manis sepanjang tahun serta arum manis dan ulat sutra goreng di penjual makanan keliling yang ada di pantai saat musim panas. Tiga belas tahun yang lalu saat saya pertama kali pindah ke Jepang, ada penjual oden keliling yang biasanya berjualan di taman dekat apartemen saya. Kami biasanya masuk ke tenda yang terpasang di salah satu sisi truk dan duduk di sebuah bangku yang ada di depan tempat penjual membuat dan menjual odennya. Sekarang ini, kami kadang mampir di sebuah truk kushiyaki yang ada di luar supermarket dekat rumah kami. Selain itu ada juga seorang tetangga kami yang menjual tahu dengan memainkan sejenis instrumen pipa saat dia lewat. Selain itu, tampaknya penjual kali lima merupakan sesuatu yang jadul di Jepang, kecuali saat festival-festival. Karena itulah saya menyukai festival di Jepang - makanannya disajikan di luar ruangan dan dibuat langsung di depan Anda.

Ubi panggang bisa didapatkan di supermarket dan pasar petani, tapi bagi saya, daya tariknya bukan hanya sekedar ubi saja; Tapi lebih pada kesempatan yang dimiliki setiap orang untuk bisa bertemu di jalan. Dan yang saya suka dari penjual-penjual tersebut adalah makanannya yang enak, pelayanannya yang ramah dan harganya yang masuk akal. Pedagang-pegadang seperti ini merupakan penjelajah waktu dari Jepang masa lampau, sebelum ada banyak toko-toko retailer dan jalan tol besar, serta orang-orang masih sering bejalan kaki di jalan-jalan sekitar mereka. Saya membayangkan kalau zaman dulu, penjual yang menjual dagangannya dari pintu ke pintu, jalan ke jalan merupakan hal yang umum; sekarang jarangnya penjual seperti itu membuat saya memberikan apresiasi yang lebih pada mereka. Ini merupakan salah satu aspek kehidupan di Jepang yang saya sukai dan saya harap masih bisa dijumpai oleh generasi yang akan datang.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Permata Dian

Permata Dian @permata.dian

I've been in love with everything related to Japan since I was child. 

Artikel asli oleh Stacy Kurokawa

Tinggalkan komentar