Musim Panas, Saatnya ke Fujiyama!

Berdiri di titik tertinggi negeri matahari terbit

Oleh Relinda Puspita   20 Mei 2015

Mendaki Fuji, gunung tertinggi dan kebanggaan warga Jepang, adalah salah satu misi saya ketika tinggal di negeri matahari terbit ini. Untuk mewujudkan impian tersebut saya dan semua orang yang berencana ke sana mesti menunggu hingga musim panas, ketika periode pendakian dibuka untuk umum. Tapi, untuk menghindari hujan dan badai yang kerap terjadi sepanjang Juli hingga September, sangatlah penting memperhatikan ramalan cuaca, sehingga bisa menentukan kapan saat yang tepat untuk mendaki gunung yang juga dianggap suci oleh warga Jepang itu sehingga mereka meyebutnya Fujisan.

Ada empat jalur yang bisa dipilih untuk mendaki Fujiyama, yaitu Fujinomiya, Yoshida, Gotemba, dan Subashiri. Keempatnya terletak di daerah yang berbeda-beda dengan tingkat kesulitan yang juga tidak sama. Dari keempat jalur pendakian tersebut saya dan keempat orang teman memilih naik melalui Fujinomiya karena jarak tempuhnya relatif singkat walaupun berbatu dan agak curam. Sedangkan turunnya, karena akan bermalam di daerah Kawaguchiko, kami mengambil jalur Yoshida yang berliku panjang dan berdebu.

Untuk mencapa puncak Fujisan, ada 9 stasiun yang harus dilewati, tapi entah kenapa semua pendaki akan memulai pendakian dari Stasiun 5 di setiap jalur yang ada, tanpa diketahui di mana letak Stasiun 1 - 4 nya. Arealnya lumayan luas karena tersedia berbagai fasilitas, seperti halte bus, pusat informasi, toko makanan, toko perlengkapan pendakian, penginapan, restoran, dan toko suvenir. Oleh karenanya, selain harus melakukan aklimatisasi, pendaki juga bisa berbelanja di sini. Biasanya pengunjung akan membeli tongkat kayu yang bisa dicap setiap kali melewati stasiun hingga sampai ke puncak. Untuk satu cap harganya sekitar 200-300 yen.

Stasiun-stasiun yang dimaksud di sini adalah titik-titik yang bisa dijadikan tempat istirahat selama pendakian yang ditandai dengan papan yang menunjukkan pendaki sedang berada di ketinggian berapa. Bentuknya bisa semacam rumah atau hanya pondok kecil biasa. Selalu ada penjaga di sana, khususnya di tempat pengecapan tongkat yang buka 24 jam.

Menyaksikan detik-detik terbitnya sang surya dari puncak tertinggi di negara berjuluk negeri matahari terbit adalah momen terbaik yang mampu mengalahkan rasa letih selama pendakian. Warna oranye yang membelah langit adalah pemandangan terindah di atas sana. Ditambah bentangan awan yang ada di sekeliling gunung ketika menjelang pagi, terasa dekat untuk disentuh. Tapi, pengalaman tersebut tidaklah lengkap bila JapanTraveler belum berdiri di titik tertinggi Gunung Fuji yang ditandai oleh sebuah tugu berbentuk balok. Dari kejauhan akan tampak manusia dengan jaketnya yang berwarna-warni sedang berbaris menunggu giliran untuk berfoto di samping tugu tersebut.

Menariknya, selain cap, pendaki bisa membeli semacam sertifikat yang mengesahkan bahwa mereka telah berhasil menaklukan Gunung Fuji. Kalau itu masih kurang, JapanTraveler juga bisa mengirimkan kartu pos untuk diri sendiri di kantor pos yang ada di atas sana.

Ayo, mulai bersiap mendaki Fujisan!

Ditulis oleh Relinda Puspita
JapanTravel Member

Tinggalkan komentar