Maiko dari Somaro Teahouse

Menikmati hiburan yang diberikan oleh Maiko dari Sakata

Oleh Bridget Ye   

Misteri, keindahan, keanggunan. Ini hanya sedikit dari elemen-elemen yang tersimpan dalam diri maiko. Maiko adalah versi "magang" dari seorang geisha. Sebagai calon geisha, maiko melakukan berbagai pelatihan khusus dalam berbagai bentuk kesenian, termasuk tarian tradisional, shamisen (sejenis alat musik gesek Jepang), dan upacara minum teh. Wajah mereka akan dibalur dengan bedak putih dengan sapuan gincu berwarna merah cerah dan memakai kimono yang cantik. Para maiko ini akan membuat Anda terpikat!

Nah, Anda ingin bertemu dengan maiko?

Selamat datang di Somaro Teahouse! Kedai yang pernah menjadi tempat paling populer bagi para pelaut dan tempat mereka menghabiskan banyak uang untuk mencari keindahan luar biasa dari kota pelabuhan tua Sakata. Pada tahun 2000 tempat ini direnovasi dan berganti nama setelah terdaftar sebagai Properti Budaya Berwujud pada tahun 1996. Somaro saat ini bukanlah ryotei atau restoran tradisional yang sama. Di Zaman Edo, tempat ini dikenal sebagai Soma-ya. Soma-ya lama sebenarnya adalah latar dari "insiden Soma-ya" yang terkenal di mana para pedagang kaya Sakata dituduh tidak menghormati keluarga kekaisaran ketika mereka ditemukan sedang mengadakan jamuan makan mewah dengan berpakaian seperti kaisar, permaisuri, dan anggota lain dari kerajaan.

Bahkan saat ini, Somaro menjadi salah satu tujuan pertama untuk mencari maiko. Ketika memasuki kedai teh ini, Anda akan disambut hangat oleh maiko dengan segala daya tariknya. Saya tidak berharap dapat mengobrol dengan maiko sebelum mengunjungi Somaro dan saya sudah sangat siap bertemu dengan maiko secara dekat. Melihat maiko di Jepang adalah impian saya. Jadi, Anda bisa membayangkan saya yang terkejut dan kehilangan kata-kata serta kemampuan lainnya yang tidak berfungsi layaknya manusia normal saat berada di Somaro dan salah satu maiko berbicara kepada saya. Tetapi saya tidak begitu memahami ucapannya karena keterampilan komunikasi bahasa Jepang saya yang terbatas. Selain karena keterampilan Bahasa Jepang yang kurang bagus, saya juga terpana dengan kecantikannya yang membuat saya tidak bisa menanggapi ucapan maiko tersebut dengan baik. Bisa dibilang saya sedang memiliki momen "fan-girling" saat itu.

Saya selalu berasumsi bahwa perjumpaan dengan maiko akan terjadi dalam sekejap, sehingga saya hanya melihat sekilas saat dia berlalu. Inilah yang biasanya terjadi di Kyoto. Namun, di Somaro, Anda bisa berbicara dengan bebas kepada maiko seperti halnya Anda berbicara dengan staf di sini.

Somaro adalah museum dan kedai teh yang menyambut pengunjung dengan keindahan interiornya. Anda dapat mempelajari sejarah geisha di Sakata, menikmati pertunjukan yang akan memikat Anda, yaitu tarian maiko. Anda dapat menikmati pertunjukan maiko sambil menyantap makan siang berupa bento dengan harga sekitar ¥3,500 pada pukul 12.00. Anda juga bisa menikmati pertunjukan maiko tanpa harus membeli makan dengan merogoh kocek sekitar ¥1,000 pada pukul 14.00 setiap hari kecuali haru Rabu dan hari libur khusus. Biaya ini juga termasuk biaya masuk untuk mengunjungi kedai teh dan pamerannya. Biaya untuk orang dewasa sekitar ¥700, siswa SMP dan SMA sekitar ¥500, dan siswa SD dan TK sekitar ¥300. Untuk anak-anak berusia di bawah 3 tahun tidak dikenakan biaya. Anda dilarang untuk memotret selama pertunjukan tarian maiko berlangsung, tetapi Anda dapat mengambil foto bersama maiko setelah pertunjukkan berakhir. Tarian maiko sangat indah, Anda harus menyaksikannya sendiri karena tidak cukup hanya disampaikan dengan kata-kata!

Selama kunjungan ke Somare saya hanya berhasil mengatakan "arigatou gozaimasu" (terima kasih) berkali-kali dan "Anda sangat cantik" kepada salah satu maiko yang dijawab dengan balasan "terima kasih". Itu adalah salah salah satu hari terbaik yang saya miliki di Jepang. Jadi, jika Anda memiliki kemampuan Bahasa Jepang yang baik, jangan lewatkan kesempatan langka untuk bercakap-cakap dengan maiko secara langsung. Nah, tunggu apalagi? Yuk, jalan-jalan ke Somaro!

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Indrayani

Indrayani @luh.komang.indrayani

Artikel asli oleh Bridget Ye

Tinggalkan komentar