Gunung Haguro

Tempat tinggal Yamabushi Dewa Sanzan

Oleh Alena Eckelmann   

Gunung Haguro dianggap suci bagi pengikut kepercayaan Shinto Jepang dan pengikut Shugendo, sebuah tradisi masyarakat Jepang kuno yang memuja gunung yang pelaksananya biasa dikenal sebagai yamabushi (orang-orang yang tinggal di pegunungan). Karena menjalankan kepercayaan mereka dengan sangat serius, mereka datang berziarah setiap tahun untuk menyembah dewa mereka.

Pada musim panas, pengunjung yang berniat berwisata kemungkinan bertemu dengan para peziarah yang berpakaian putih dari atas hingga ujung kaki, dan dipimpin oleh para imam yamabushi yang jubahnya terlihat cukup kuno. Suara cangkang kerang yang misterius, yang ditiup dengan mahir oleh para imam tersebut, mengumumkan perjalanan mereka.

Anda mungkin ingin mencoba dan menggali sendiri melodi bagus dari alat musik tidak biasa ini di Museum Budaya Ideha. Museum ini terletak di Desa Toge di kaki Gunung Haguro di mana Anda dapat belajar segala hal tentang sejarah dan budaya yamabushi Dewa Sanzan.

Gunung Haguro merupakan salah satu dari tiga gunung yang membentuk Dewa Sanzan, "Tiga Gunung Dewa yang Suci", sebagaimana daerah yang sekarang sebagai Prefektur Yamagata ini dahulu disebut sampai akhir abad 19. Dua gunung lainnya, Gunung Gassan (1.984m) dan Gunung Yudono (1.500m), terletak di sekelilingnya dan peziarah Jepang berbondong-bondong untuk memuja kami-sama (para dewa) pegunungan ini.

Disebutkan bahwa Dewa Sanzan terbuka sebagai pusat keagamaan pada tahun 593 oleh Pangeran Hachiko, putra dari Kaisar Sushun.

Menurut tradisi, para pemuja pertama-tama pergi ke Gunung Haguro sebelum menuju ke Gunung Gassan dan terakhir ke Gunung Yudono. Kedua gunung yang terakhir disebut itu tertutup salju hampir sepanjang tahun (pertengahan Oktober sampai Juni) dan akibatnya menjadi tidak bisa diakses oleh kelompok peziarah maupun wisatawan.

Oleh karena itu, agar praktis sebagaimana orang Jepang, mereka mendirikan sebuah kuil di atas Gunung Haguro yang dapat diakses sepanjang tahun. Kuil ini berfungsi sebagai tempat pemujaan bagi para dewa dari ketiga gunung tersebut.

Tempat suci ini adalah Sanjin Gosaiden, bagunan kayu beratap jerami terbesar di Jepang dan kekayaan berbintang dua lainnya yang ditampilkan dalam Michelin Green Guide Japan.

Struktur yang sekarang berasal dari tahun 1818, namun sejarahnya bermula lebih jauh lagi. Bila melihat atap jerami setebal lebih dari dua meter yang mengagumkan tersebut, Anda pasti tidak bisa membayangkan jumlah tenaga kerja yang berhasil mengerjakannya. Di puncak Gunung Haguro ada sejumlah kuil dan tempat suci, meskipun ini disebut sebagai kompleks tempat suci. Hal tersebut hanya menunjukkan kalau Budhisme dan Shinto terjalin sebelum kedua agama tersebut dipisahkan secara paksa pada saat Restorasi Meiji Jepang, peristiwa yang merestorasi pemerintahan kekaisaran ke Jepang pada tahun 1868 dan yang menandai permulaan era baru di Jepang.

Jalan setapak mendaki gunung dimulai setelah Anda melewati sebuah gerbang tori di dekat Museum Budaya Ideha. Sebenarnya jalan setapak tersebut pertama-tama menurun ke sebuah lembah di mana Anda akan menjumpai sebuah air terjun kecil, Suga-no-taki, dan sebuah tempat suci di dekat jembatan yang dipernis merah, yang disebut Shinkyo, atau Jembatan Tuhan. Para peziarah melakukan penyucian diri di sini sebelum mereka berjalan melintasi jembatan yang menandai pintu masuk ke daerah suci Gunung Haguro.

Dengan berjalan kaki sebentar Anda akan sampai ke sebuah pagoda kayu berumur ratusan tahun dan di dekatnya juga terdapat pohon aras yang disebutkan telah merusia 1.400 tahun. Ini ditandai dengan sebuah tali suci. Sebenarnya pononnya ada 2 dan dianggap sebagai "pasangan" namun satu dihancurkan oleh petir. Pohon aras kuno yang masih tersisa berdiri gagah di antara para sepupunya yang "hanya" beberapa ratus tahun. Bagaimanapun juga, semua pohon aras ini lebih tua dari umur kita.

Berjalan di hutan berisi pohon aras besar dan tua ini membuat Anda merasa rendah hati dan kecil.

Info lebih lanjut

Cari tahu tentang Mount Haguro

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
devi siadari

devi siadari @devi.siadari

Artikel asli oleh Alena Eckelmann

Tinggalkan komentar