Dengan populasi yang semakin menua dan untuk menyambut Olimpiade dan Paralimpiade 2020, Jepang semakin serius dalam mengupayakan penduduk dan wisatawan dengan disabilitas, untuk dapat menikmati akses yang lebih baik khususnya pada fasilitas kota dan destinasi wisata.

Untuk yang Berkebutuhan Khusus dalam Mobilitas

Bus

Di kota besar seperti Tokyo dan Kyoto, semua bus kota sudah difasilitasi dengan non-step bus, yang artinya bus yang sebelumnya menggunakan tangga pijakan kini telah dilengkapi dengan pijakan landai yang selalu siap disediakan oleh supir bus. Busnya pun telah dilengkapi ruang khusus untuk pengguna kursi roda, dan memiliki tombol dengan posisi yang nyaman agar pengguna kereta roda mudah mencapainya saat ingin memberi sinyal pemberhentian.

Bus di daerah terpencil dan bus jarak-jauh (lebih sering disebut 'highway buses' dalam Bahasa Inggris) mungkin masih jadi rintangan, karena banyaknya masih menggunakan tangga pijakan dan tidak memiliki ruang khusus untuk kursi roda. Bus limosin bandara juga masih menjadi tantangan karena masih memiliki fitur yang sama, dan baiknya memberi info pada staf bus mengenai kondisi atau keterbatasan mobilitas pada saat melakukan reservasi.

Metro dan/atau Kereta Bawah Tanah

Di Tokyo dan beberapa kota besar lainnya, di beberapa gerbong kereta bawah tanah sudah dilengkapi dengan ruang yang cukup besar untuk pengguna kursi roda. Staf Metro juga menyediakan pijakan landai yang menyerupai jembatan untuk memudahkan pengguna kursi roda masuk ke dalam kereta; jika Anda memberitahu staf ke mana destinasi Anda, mereka akan menghubungi staf di destinasi tersebut untuk mempersiapkan kedatangan Anda.

 (Foto: Mandy Bartok)
(Foto: Mandy Bartok)

Di dalam keretanya sendiri, pengguna alat bantu jalan seperti tongkat ataupun kruk juga biasanya membutuhkan tempat prioritas, dan tempat prioritasnya pun memiliki desain yang berbeda untuk mengakomodasi sesuai kebutuhannya. Tempat prioritas ini biasanya berlokasi di setiap ujung gerbong kereta, sama dengan fasilitas untuk Ibu hamil dan orang yang berpergian dengan anak-anak.

Di sebagian besar stasiun, setidaknya ada satu gerbang tiket yang bisa mengakomodasi pengguna kursi roda. Biasanya berlokasi dekat dengan stan penjaga/staf stasiun agar apabila terjadi suatu hal lebih cepat teratasi.

Lift tersedia di hampir semua stasiun metro di Tokyo untuk mempermudah penumpang untuk pergi dari peron ke gerbang tiket dan juga ke jalan luar stasiun. Akan tetapi, stasiun metro yang memiliki banyak pintu keluar (seperti stasiun Ginza atau Shibuya) biasanya hanya memiliki satu atau dua lift saja, yang artinya tidak selalu mampu membawa penumpang ke tempat tujuannya. Jika lift sedang tidak bisa dipakai, sering kali sebuah pengumuman diumumkan di dalam kereta sebelum kereta mencapai stasiun tersebut. Dulu umumnya pengumuman tersebut hanya diumumkan dalam Bahasa Jepang, namun beberapa tahun belakangan juga diumumkan dalam Bahasa Inggris.

Kereta Jarak Jauh (Shinkansen atau Kereta Cepat)

Wisatawan dengan kursi roda bisa mendapatkan pengalaman menggunakan shinkansen yang nyaman dengan sedikit persiapan sebelumnya. Reservasi bisa (dan harus) dibuat sebelumnya untuk tempat duduk pengguna kursi roda. Staf akan membantu meyiapkan pijakan landai untuk keluar-masuk kereta saat dibutuhkan. Di dalam kereta, kebanyakan shinkansen sudah menyediakan toilet dengan akses toilet yang luas, lokasi tombol yang rendah, susuran pegangan dan ruang yang nyaman untuk pengguna kursi roda.

Hotel

Industri hotel pun belakangan semakin maju dalam mengakomodasi pengunjung dengan disabilitas. Hotel-hotel baru harus dilengkapi regulasi bebas-penghalang dan harus menawarkan setidaknya banyak kamar ramah disabilitas. Hotel-hotel lama pun kini banyak yang menambah fasilitasnya termasuk salah satunya fasilitas ramah disabilitas. Informasi tersebut bisa Anda akses di Accessible Tokyo, sebuah situs yang menyediakan informasi terkait hotel dengan fasilitas ramah disabilitas.

Lokasi Wisata

Belakangan lokasi wisata sudah dirancang untuk bisa diakses secara universal, maka umumnya sudah dilengkapi dengan pijakan landai, lift, dan bahkan akomodasi lain di museum-museum baru. Lokasi-lokasi yang cenderung lebih tua tengah melengkapi failitas yang mendukung, seperti pijakan landai contohnya, namun beberapa lainnya seperti Kastil Tsurugajo di Fukushima, memiliki kendala dari segi konstruksi alam dan integritas struktural untuk memenuhi tuntutan akses yang modern. Beberapa kuil lebih mudah diakses oleh orang lain, tapi mungkin saja kemudian berkembang dengan dilengkapi lift tersembunyi atau jalur khusus, dan biasanya hal itu mungkin terjadi jika adanya permintaan dari pengunjung.

Untuk Tunanetra

Paving blok kuning

Banyak jalur pedestrian di Jepang memiliki tanda kuning "jalur khusus", atau jalur indikator dengan tekstur khusus. Jalur ini terdiri dari blok-blok kuning yang ditandai dengan garis timbul atau dots (bintik/titik-titik) timbul. Garis timbul tersebut mengindikasi kelanjutan rute, sedangkan bintik timbul menandakan akhir dari rute, atau untuk beberapa kasus yaitu sebagai tanda perubahan arah. Tanda ini ada di mana-mana di banyak seperti di Tokyo dan Kyoto, meski hanya di jalur pedestrian saja. Beberapa daerah kecil tidak memiliki jalur pedestrian, dan umumnya pejalan kaki harus berbagi lalu lintas dengan kendaraan lain dan juga pengguna sepedah. Jalur khusus ini juga bisa ditemukan di seluruh stasiun kereta, garis pembatas di tangga maupun lift.

APAKAH KAMU TAU? BAHWA SEBETULNYA JALUR TERSEBUT BERNAMA TENJI BLOK DAN ASLINYA DITEMUKAN OLEH SEIICHI MIYAKE PADA TAHUN 1965, SEBELUM DILUNCURKAN PERTAMAKALINYA DI KOTA OKAYAMA PADA 18 MARET 1967, DISEBELAH SEKOLAH KHUSUS TUNANETRA. // SUMBER: GOOGLE

Tanda braille

Banyak lift memiliki hurub Braille di semua tombolnya, dan stasiun kereta umumnya memiliki penjelasan menggunakan huruf Braille yang tersemat di atas dan bawah metal susuran pegangan tangga. Beberapa papan map besar juga memiliki penjelasan menggunakan huruf Braille. Meski kelengkapan fitur Braille ini sangat bermanfaat, orang yang tidak bisa berbahasa Jepang akan paham bahwa huruf Braille tersebut hanya berbahasa Jepang dan menggunakan suku kata kana.

Meski Jepang masih harus melewati banyak jalur agar bisa memperbaiki aksesbilitas untuk semua pengunjung, ada harapan dalam beberapa tahun ke depan dalam rangka Olimpiade dan Paralimpiade, akan lebih banyak ditemukan perkembangan terkait instalasi layanan yang membantu pengunjung dengan disabilitas.