Kakunodate - Perjalanan ke Masa Lalu

Berjalan-jalan melewati pusat kota Samurai

Oleh Steve Morton   

Bagi siapa pun yang telah mengunjungi kota manapun di Jepang, dia pasti tak diragukan lagi akan terpesona dengan banyaknya lampu neon yang berkedip terang atau barisan tak berujung bangunan-bangunan ultra modern yang menjulang tinggi yang tampaknya telah berhasil menghapus sepenuhnya sentuhan budaya atau sejarah seperti apapun. Dan sedihnya, fenomena ini ditemukan di terlalu banyak daerah perkotaan di Jepang yang terburu-buru memodernisasi dirinya hingga kehilangan sesuatu yang tidak tergantikan, inti tradisional mereka.

Sebuah pengecualian dari fenomena yang terus berlanjut ini ada di kota nan cantik Kakunodate di prefektur Akita yang merupakan satu dari tinggal sedikit tempat yang berhasil mempertahankan pusat sejarahnya - meski mungkin sebagai bagian dari kepentingan pariwisata!

Awalnya dibangun sebagai pos militer di tahun 1620, belakangan Kakudato berkembang menjadi kota Samurai. Sepanjang perjalanan waktunya, delapan puluh permukiman yang lapang dibangun untuk menjadi tempat tinggal bagi masing-masing prajurit dan keluarganya.

Bangunan-bangunan terbuat dari kayu yang dilestarikan dengan sangat baik ini dapat dilihat ketika berjalan sepanjang jalan yang sangat luas dimana dengan mudah dapat dibayangkan para Samurai mengendarai kuda mereka melintasinya di zaman kuno.

Kota ini bahkan dibuat jadi lebih indah dengan kehadiran lebih dari 300 pohon cerry dengan batang merunduk yang ditanam sepanjang jalan utama. Awalnya dibawa dari Kyoto beberapa abad lampau, pepohonan ini menciptakan pemandangan spektakuler pada akhir Maret hingga awal April sepanjang hanami atau musim Mekarnya Bunga Sakura yang mengundang kerumunan besar orang-orang dari seluruh penjuru negeri.

Karena ukurannya yang ringkas, kota ini sangat mudah dijelajahi dan menjadi sebuah tempat yang hebat untuk menjadi tujuan jalan-jalan. Dari stasiun Kakunodate kamu dapat mengambil sebuah Peta berbahasa Inggris dimana hanya sekitar lima belas menit berjalan kaki menuju ke bagian bersejarah yang utama di kota. Kamu juga mungkin saja menyewa sepeda dari kantor informasi turis yang berlokasi di luar stasiun dengan biaya sekitar 300 yen.

Di antara begitu banyak pemandangan menarik, ada sebuah bekas permukiman Samurai yang sangat mengesankan (岩橋家) dengan taman kecil yang indah di mana di dalamnya terdapat sebuah sumur berair dengan gaya tradisional. Selain itu, rumah yang dilestarikan dengan amat baik ini juga memiliki ruangan bertatami dengan kolong untuk api yang berguna untuk memasak makanan. Yang lebih mengesankan lagi adalah fakta bahwa tidak dikenakan biaya masuk apapun untuk masuk ke permukiman ini.

Sangat dekat dengan permukiman ini, ada sebuah kotak pos bergaya kuno yang secara aneh malah menjadi landmark yang menarik. Apakah memang sengaja diletakkan di situ atau tidak, kotak pos berwarna merah cerah ini menjadi kontras yang sempurna dengan latar belakang coklat gelap, menciptakan kesempatan foto yang luar biasa.

Terletak ke arah ujung utara kota ada 青柳家, sebuah bekas permukiman keluarga Aoyagi yang berisi sebuah perpaduan menarik dari artefak Samurai bersama dengan banyak item tak terduga lainnya.

Awalnya dibangun pada tahun 1890 dan dihuni sampai tahun 1989, perumahan ini memiliki pintu masuk yang luar biasa besarnya, tampilan yang tidak berkarakteristik seperti rumah-rumah lain di sekitarnya. Di dalam kompleks perumahan, ada beberapa bangunan dikelilingi oleh taman bergaya tradisional Jepang yang sangat terawat baik.

Yang pertama dari bangunan di sini adalah sebuah gudang persenjataan berisi beberapa baju baja Samurai yang sangat terawat baik dan berbagai macam sejata termasuk pedang dan senapan yang berasal dari abad ke-15 bersama dengan barang-barang peninggalan Perang Sino-Jepang.

Yang juga cukup mengejutkan, ada sebuah museum barang antik yang diyakini menjadi rumah bagi koleksi terbesar barang-barang antik asing di Jepang. Di antara sejumlah besar item yang ada di sini, terdapat beberapa gramofon, rekaman, dan kamera buatan-Jerman.

Meskipun biaya masuk sebesar 500 yen mungkin bisa mencegah beberapa orang masuk ke sini, ini adalah sebuah tempat yang akan dengan mudahnya membuatmu menghabiskan berjam-jam berjalan melewati taman atau melihat-lihat sejumlah artefak bersejarah. Jadi menurutku, uangmu dihabiskan dengan baik di sini.

Untuk berjaga-jaga jika kamu membutuhkan makanan dan minuman, di sini juga ada sebuah restoran bagus tepat di seberang Aoyagi-ke yang menjadi sebuah tempat yang baik untuk perhentianmu sebelum berjalan-jalan kembali atau kembali ke stasiun.

Berapa lama pun waktu yang kamu rencanakan untuk dihabiskan di sini, kamu akan senang karena telah mengusahakan waktu untuk mengunjungi sedikit dari tempat yang tersisa di Jepang yang belum sepenuhnya kehilangan dirinya ke dalam lampu-lampu neon terang norak tak berbudaya dari modernisasi.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Santy Tobing

Santy Tobing @santy.tobing

no one realizes how beautiful it is to travel until he comes home and rests his head on his old, familiar pillow. 

Artikel asli oleh Steve Morton

Tinggalkan komentar