Nakasendo merupakan salah satu jalan tua yang digunakan saat Periode Edo (1603-1868) yang menghubungkan Edo (Tokyo masa kini) dengan Kyoto. Tidak seperti rute Tokkaido yang berada di pesisir, Nakasendo melintang di atas perbukitan menelusuri Lembah Kiso. Jalur ini menawarkan pemandangan Jepang masa lalu, dengan jalan-jalan yang meliputi jalur batu besar di dalam hutan yang klasik serta jalan ramai yang melintasi kota-kota berjembatan kayu kuno, meski tentu saja banyak pemandangan yang menggabungkan jalan-jalan dengan mobil-mobil modern juga. Kami telah melakukan perjalanan menuju Lembah Kiso selama tiga hari di sepanjang Nakasendo, untuk melihat objek-objek wisata menarik yang ada di sepanjang jalan itu!

Magome-juku

Setelah turun dari kereta di Stasiun Nakatsugawa, kami berangkat ke destinasi pertama — sebuah kota berjembatan kayu kuno, Magome-juku, di Prefektur Gifu. Sebuah kincir air dari kayu yang tua menyapa kami selagi mendaki jalan berbatu lalu melanjutkan perjalanan di sepanjang toko-toko tua yang dibangun dengan kayu yang sangat dilestarikan, bersandingan dengan penginapan-penginapan, ditemani aliran air dari gunung yang turun di kedua sisi jalan.

Jalur Magome dan Air Terjun Odaki-Medaki

Kami lalu bergegas ke atas menuju Jalur Magome. Tempat ini merupakan batas antara Prefektur Gifu dan Nagano, yang menawarkan pemandangan memukau dari kota di bawahnya. Kami menyempatkan diri untuk mengunjungi air terjun Odaki (laki-laki) dan Medaki (perempuan), yang tetap deras meski dikelilingi salju.

Tsumago-juku

Tujuan kami berikutnya adalah sebuah kota kuno lainnya, Tsumago-juku. Kota ini adalah salah satu yang pertama di Jepang yang melestarikan jalan-jalannya dan bangunan-bangunannya yang bersejarah, yang sekarang banyak digunakan sebagai toko cenderamata, restoran, dan ryokan untuk para pengunjung hari ini. Rasanya sulit untuk meninggalkan tempat ini setelah terbawa suasana yang rasanya seperti sebuah drama bersejarah.

Di sini kami menikmati makan siang. Kami berhenti sejenak di Ryokan Fujioto untuk menyantap menu tradisional yang meliputi ikan trout bakar khas Lembah Kiso dan wagyu beef ala Jepang yang dimasak dengan hoba-miso (saus miso dengan daun magnolia).

Setelahnya kami mengunjungi Okuya, sebuah bangunan kayu memukau yang dibangun kembali terakhir kalinya pada tahun 1877, yang digunakan sebagai "waki-honjin", salah satu penginapan paling penting di kota ini. Staf di sini memberikan tur yang mencakup ruang-ruang tersembunyi, dan bahkan pintu masuk khusus bagi kaisar Meiji yang datang pada tahun 1880. Jika memungkinkan, cobalah untuk datang berkunjung pada siang hari yang cerah supaya Anda bisa melihat sinar matahari samar-samar menyinari interior kayu di dalamnya.

Hutan Alami Akasawa

Salju tipis mulai turun selagi kami mendaki jalur gunung menuju Hutan Alami Akasawa. Hutan ini memiliki banyak hinoki Kiso (pohon cypress Jepang), yang kebanyakan telah berusia 300-350 tahun. Hingga Restorasi Meiji pada tahun 1868, rakyat jelata Jepang dilarang menebang pohon-pohon ini, karena digunakan untuk kuil-kuil Shinto. Sejak saat itu, bahkan hingga sekarang, pepohonan ini merupakan sumber pasokan kayu untuk Ise Jingu di Prefektur Mie, salah satu kuil paling tua dan paling suci di Jepang, yang dikenal sebagai kuil yang selalu dibangun kembali tiap 20 tahun sekali.

Hutan Alami Akasawa juga merupakan tempat di mana istilah "mandi hutan" berasal. "Mandi Hutan" merupakan terapi berjalan kaki di sepanjang hutan. Tentu saja, ketika hutan ini dibuka untuk publik dari akhir April hingga Oktober, para staf medis akan merekomendasikan hutan ini sebagai konsultasi dan "resep" untuk mengilangkan dan menyembuhkan stres. Para pengunjung juga dapat menikmati perjalanan menggunakan sebuah kereta tua yang dulunya digunakan dalam industri perkayuan.

Tsutaya Tokinoyado Kazari

Setelah seharian menjelajahi jalur, kami bermalam di Tsutaya Tokinoyado Kazari di Kaida Kogen, sebuah penginapan terpencil yang dikelilingi hutan dengan ruang-ruang tatami yang menyajikan pemandangan Gn. Ontake di dekatnya. Pertama-tama kami menghangatkan diri terlebih dahulu di perapian irori selagi para staf membawakan teh soba dan manisan Jepang.

Tak lama setelahnya, kami berpindah ke area makan, sebuah tempat yang menenangkan dengan lantai, tembok, meja-meja, dan kursi-kursi kayu, ditemani jendela kaca yang menjulang dari lantai ke langit-langit yang menampilkan pemandangan teras bersalju. Makan malamnya sangat lezat, sebuah sajian kaiseki-ryori (hidangan khas Jepang) yang bahkan mencakup sushi sayur buatan tangan.

Terakhir, pada malam ini kami mengunjungi sumber air panas ryokan. Airnya mengembalikan energi kami dan mengingatkan kami bahwa beberapa hal sederhana seperti duduk di sebuah rotemburo luar ruang yang hangat selagi menyaksikan salju berderai di hadapan Anda pun bisa jadi pengalaman yang luar biasa.

Artikel ini merupakan bagian dari serial tiga hari di Jalur Nakasendo