Nakasendo merupakan salah satu jalan tua yang digunakan saat Periode Edo (1603-1868) yang menghubungkan Edo (Tokyo masa kini) dengan Kyoto. Tidak seperti rute Tokkaido yang berada di pesisir, Nakasendo melintang di atas perbukitan menelusuri Lembah Kiso. Jalur ini menawarkan pemandangan Jepang masa lalu, dengan jalan-jalan yang meliputi jalur batu besar di dalam hutan yang klasik serta jalan ramai yang melintasi kota-kota berjembatan kayu kuno, meski tentu saja banyak pemandangan yang menggabungkan jalan-jalan dengan mobil-mobil modern juga. Kami telah melakukan perjalanan menuju Lembah Kiso selama tiga hari di sepanjang Nakasendo, untuk melihat objek-objek wisata menarik yang ada di sepanjang jalan itu!

Pastikan Anda sudah membaca artikel kami tentang perjalanan di Nakasendo - Hari Pertama untuk mengikuti kisahnya dari awal!

Taman Kiso-Uma-no-Sato

Setelah check out dari ryokan, kami bergegas menuju Taman Kiso-Uma-no-Sato yang berjarak tidak jauh dari sana. Taman ini terkenal dengan sekumpulan kuda yang disebut Kiso-uma, salah satu dari delapan jenis kuda asli Jepang yang masih tersisa. Berbeda dengan kuda-kuda yang mungkin Anda ketahui, kuda-kuda Kiso-uma memiliki kaki yang cenderung lebih pendek dengan tubuh yang lebih gempal. Kami berkeliling istal dan mengunjungi kandang ternak untuk melihat kuda-kuda ini dari dekat dan berinteraksi dengan beberapa ekor yang ramah dan mendekati kami di pagar. Taman ini buka sepanjang tahun, dengan acara-acara spesial dilangsungkan tiap musim, seperti parade kereta-kereta yang ditarik kuda pada musim dingin.

Es Krim Kaida Kogen

Meski cuaca dingin dan salju turun, es krim Kaida Kogen setempat sangat direkomendasikan dan kami pun berkunjung ke salah satu toko yang tenang ini. Mereka memiliki pilihan es krim rasa vanila yang klasik, namun kami juga mencoba rasa jagung yang ada di menu. Kami memadukan keduanya untuk menemani kami berkendara, dan teksturnya yang lembut dan creamy sangat menyenangkan!

Kuil Ontake-jinja

Gn. Ontake, puncak tertinggi kedua di Jepang, merupakan atraksi wisata utama di Kisoji. Meski puncaknya masih belum bisa dicapai karena erupsi terakhir pada tahun 2014, pengunjung tetap dapat mengunjungi Kuil Ontake-jinja yang menawan serta kuil-kuil kecil di sekitarnya yang membawa nuansa spiritual di sekitar gunung, yang sudah dipuja oleh warga sejak sekian lama. Di kuil ini, juga tersebar di seluruh area pegunungan, terdapat gundukan tanah dengan penanda batu yang bukanlah merupakan area pemakaman, melainkan sebuah monumen yang dibangun untuk menghormati para peziarah yang meninggal dalam perjalanan dari atau menuju gunung.

"Taki Shugyo" atau Pelatihan Air Terjun

Area ini memiliki dua air terjun spektakuler, Kiyo-taki dan Shin-taki. Kami harus sedikit mendaki terlebih dahulu untuk mencapai Shin-taki, yang pada saat itu tertutu es, namun tetap memiliki riam yang turun ke batu di bawahnya. Kedua air terjun ini sangat terkenal untuk "taki shugyo" atau "pelatihan air terjun", di mana orang-orang yang mengenakan pakaian putih sederhana berdiri di bawah pancuran air terjun yang dingin untuk menyelesaikan sebuah ritual penyucian. Latihan ini dapat berbahaya jika dilakukan pada musim dingin ketika air terjun berubah menjadi es, sehingga pada saat kami berada di Shin-taki, kami hanya bertemu dengan beberapa fotografer lain yang sedang menikmati keindahan air terjun yang membeku.

Fukushima Sekisho

Setelah berhenti sejenak untuk makan siang, kami beranjak menuju Fukushima Sekisho, yang dulunya merupakan satu dari dua pemberhentian utama di Nakasendo di mana para pelancong diharuskan menunjukkan tanda masuk dan barang-barang bawaan mereka untuk diinspeksi. Tempat ini serupa dengan area imigrasi modern, yang membuat rezim Tokugawa dahulu dapat memastikan siapapun yang masuk ke jalur utama tidak membawa masuk senjata atau membawa keluar kayu-kayu dari hutan secara ilegal. Meski bangunan aslinya sudah lama dirubuhkan, terdapat bangunan hasil rekonstruksi di mana Anda bisa melihat museum berisi dokumen-dokumen asli, senjata, borgol, instrumen untuk menyiksa tawanan, serta replika tanda masuk yang terbuat dari kayu yang dibawa oleh para pelancong.

Kuil Kozen-ji: Zazen dan Karesansui

Kozen-ji merupakan sebuah kuil Zen Budha kuno yang terletak di seberang Sungai Kiso dari Fukushima Sekisho. Tempat ini memiliki taman "karesansui" (jenis taman yang menggunakan pasir dan batu alih-alih pohon dan rumput) terluas di Jepang, juga tiga taman lainnya, termasuk satu yang memiliki sejarah lebih dari 300 tahun. Salah satu pendeta kuil mengundang kami untuk mencoba aktivitas meditasi Zen bergaya zazen. Meski sesi ini berjalan hanya lima menit, berbeda dengan zazen pada umumnya yang berlangsung selama 20-30 menit, kami duduk langsung di depan taman karesansui dan seketika langsung dapat menenangkan diri dibantu oleh teras taman yang begitu sunyi. Setelahnya, kami berkesempatan membuat model miniatur dari taman karesansui, lengkap dengan pasir, kerikil, dan sebuah garpu kecil untuk membentuk pola di atas pasir. Ternyata ini lebih sulit dari pada yang kami bayangkan, meski tingkat kesulitannya bukan dikarenakan teknik, tetapi karena kami harus mengikuti persepsi Zen yang harus melawan hasrat untuk membuat taman yang "sempurna"!

Ada beberapa aktivitas di Kozen-ji yang mungkin tidak tersedia karena jadwal, jadi pastikan Anda menghubungi Federasi Turis Kiso (Kiso Tourism Federation) dan mengeceknya terlebih dahulu sebelum berkunjung.

Artikel ini merupakan bagian dari serial tiga hari di Jalur Nakasendo