Museum Amuse, Asakusa

Produk Jepang : desain, seni tekstil dan properti film

Oleh Niek Ceylan   

Tersembunyi diantara gedung-gedung dan museum lainnya di Asakusa, Museum Amase menampilkan sejarah dari desain produk Jepang dan budayanya. Museum Amuse berfokus pada seni tekstil, desain produk, budaya tradisional dan seni Ukiyo-e (woodblock print/cetakan kayu).

Menyimpan 1500 item dari pakaian Boro, yang dikenakan antara abad ke 17 dan 19, dibuat dari sisa-sisa kain dan berbagai pakaian yang terlalu bagus untuk dibuang. Bagi mereka yang tidak dapat membeli pakaian tradisional biasa, mereka - kebanyakan wanita - mulai memotong dan menjahit pakaian-pakaian lama dan menjadikannya pakaian baru. Jahitan dan tenunan Boro mereka dibuat sangat baik sehingga pakaian itu dapat bertahan beberapa generasi. Hal ini merupakan penghematan besar bagi keluarga yang tidak dapat membeli banyak.

Karena tiap helai Boro adalah item yang unik, pada masa ini Boro dipandang sebagai seni. Di dunia desain, semua tentang item yang langka dan mode yang inovatif, karena itu Boro menjadi populer lagi. Juga karena teknik ramah lingkungan untuk menggunakan kembali kain yang merefleksikan filosofi daur ulang, banyak pakaian kontemporer yang terinspirasi dari teknik ini atau bahkan diduplikasi untuk dijual.

Kolektor Chuzaburo Tanaka, yang kepiawaiannya luar biasa hingga menjadi penasihat bagi sutradara film legendaris Akira Kurosawa, punya banyak sekali koleksi lebih dari 30,000 item langka, item terpilih yang dipajang disini. Sekitar 1500 buah dapat dilihat di area pameran, dan dirotasi tiap beberapa bulan.

Pada 1990 Kurosawa mengeluarkan film barunya Yume ('Dreams'/Mimpi) ; banyak properti dan kostum yang digunakan dalam filim ini disediakan oleh Tanaka, dan dipamerkan di Museum Amuse sebagai pameran permanen. Ada juga pameran Kimono, terdiri dari 768 buah kostum tradisional Jepang.

Yang spesial dari museum ini adalah beberapa item diperbolehkan untuk disentuh, termasuk pakaian Boro. Karena teksturnya menggoda untuk disentuh, beberapa petunjuk ditempatkan dimana tangan Anda dibolehkan menyentuh bahan kerajinan tangan ini. Museum ini memiliki enam lantai, lantai enam adalah Bar Six (buka dari 6:00 pm sampai 2:00 am). Naik satu lantai ke atas dan Anda akan menemukan rooftop, dengan pemandangan menkakjubkan Asakusa, kuil Sensoji dan mengintip di antara gedung-gedung lainnya Tokyo SkyTree.

Museum ini benar-benar melakukan yang terbaik untuk menyediakan segala informasi di website dan di museum dalam bahasa Inggris; para staf, juga semuanya berbicara sangat baik dalam bahasa Inggris. Dari Stasiun Asakusa (Ginza Line atau Tobu SkyTree Line) gunakan pintu keluar 8 dan berjalan ke utara. Setelah berjalan 5 menit, museum berada di sebelah kiri Anda. Mahasiswa dan pelajar SMA akan mendapat potongan di museum ini dengan menunjukkan kartu pelajar mereka.

Untuk akomodasi di area, saya merekomendasikan Hotel Mystays Ueno Inaricho.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Reyzi Enditya

Reyzi Enditya @reyzi.enditya

normal office worker who love to travel and learn new things. have interest in social study.  

Artikel asli oleh Niek Ceylan

Tinggalkan komentar