Dewan Ninja

Ajang Promosi Pariwisata Jepang

Oleh Purwandini Sakti Pratiwi   30 Mar 2015

Ninja menjadi salah satu simbol yang paling dikenal di Jepang. Spionase dan intelijen adalah kekuatan utama mereka. Prajurit pengintai yang ditakuti ini justru berbalik menjadi ikon budaya pop melalui penggambaran mereka dalam komik dan film.

Ninja secara tradisional merupakan tentara bayaran yang disewa oleh berperang negara bagian di abad ke-15 dan ke-16, sebelum Jepang bersatu. Sementara mereka terampil dalam pertempuran bersenjata dan terkenal mampu ‘’menghilang’’, para ahli mengatakan bahwa mereka mencoba untuk menghindari pertempuran sebisa mungkin.

Sosok bertopeng dan cerita kekuatan luar biasa yang dimiliki Ninja terus menginspirasi hingga saat ini. Dewan Pariwisata Jepang pun berharap bisa memanfaatkannya.

Sebuah "Dewan Ninja" baru saja didirikan untuk membangkitkan minat dalam sejarah dan kegiatan terkait Ninja sebagai bagian dari kampanye baru pariwisata di Jepang. Dewan ini dibentuk oleh wali kota dan gubernur dari seluruh penjuru Jepang, yang menanggalkan seragam formal mereka untuk mengenakan perlengkapan Ninja saat meluncurkan prakarsa baru ini.

"Melalui Ninja, kami ingin menghidupkan kembali masyarakat," kata Eikei Suzuki, Gubernur Prefektur Mie dan salah satu sosok yang juga memakai kostum layaknya Ninja kepada Japan Times.

Anggota dewan menginginkan agar pemerintah daerah dan badan-badan pariwisata untuk menempatkan Ninja menjadi pusat perhatian, meskipun secara historis Ninja mencoba untuk menghindari perhatian dari siapapun. Mereka juga akan mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan Ninja.

Prefektur Mie merupakan lokasi yang sering disebut sebagai "rumah ninja" karena memiliki sekolah terkenal ninjutsu - atau teknik Ninja. Salah satunya yakni Sekolah Ninja Iga.

Dalam beberapa tahun terakhir, siapa pun yang ingin mencoba melempar bintang Ninja saat berlibur di Jepang, harus melakukan perjalanan ke Iga (dua setengah jam perjalanan kereta dari Osaka), lalu menghubungi sekolah Ninja ini di sebuah kota kecil bernama Akame.

Kemudian, ada sebuah museum di kota yang menampilkan tulisan Ninja yang sudah berabad-abad usianya. Kemudian benda bersejarah itu ditampilkan kepada wisatawan untuk menunjukkan metode pembunuhan tradisional yang digunakan oleh ninja.

Menariknya, di sana ada toko yang menyediakan jasa bagi keluarga yang ingin mengenakan pakaian a la Ninja. Prefektur ini juga menyelenggarakan perayaan Ninja tahunan yang disebut sebagai Iga-Ueno Festival. Mie University bahkan menawarkan kelas dalam studi Ninja, meliputi pelajaran bagaimana berjalan secara diam-diam layaknya Ninja.

Saat ini, para pejabat ingin memperluas daftar atraksi yang berkaitan dengan era feodal, lalu master seni bela diri yang tersedia di situs Badan Pariwisata Jepang, sehingga wisatawan yang ingin belajar lebih banyak bisa melakukannya.

Mereka berharap agar minat global terhadap sosok misterius ini dapat meyakinkan para wisatawan untuk berkunjung ke Jepang.

"Ini adalah sosok yang selalu muncul ketika kami ke luar negeri untuk mempromosikan pariwisata,"ujar Hiroshi Mizohata, mantan Kepala Dinas Pariwisata Jepang.

Para pejabat pun berharap, meningkatnya profil ninja dapat menggerakkan gelombang minat pengunjung yang akan berlanjut hingga Olympic Games yang akan diselenggarakan di Tokyo pada tahun 2020.

JapanTravel Member

Tinggalkan komentar