Nagasaki: Sebuah Refleksi

Sebuah perjalanan ke Museum 26 Martir yang Membuka Mata

Oleh Maria Wilhelmina Domingo   

Ketika mendengar Nagasaki, kebanyakan dari Anda pasti akan mengaitkannya dengan Bom Atom dan Perang Dunia kedua. Bila Anda sudah lama tinggal di Jepang, yang terlintas dalam pikiran ketika mendengar kata Nagasaki adalah champon, mie khas daerah tersebut. Hanya beberapa orang yang masih ingat kaitannya Nagasaki dengan persebaran agama Kristen di Jepang dan di Asia.

Latar belakangnya secara singkat: Kekatolikan datan ke Jepang pada tahun 1549 melalui Kagoshima oleh St. Francis Xavier, Fr. Cosme de Torres, dan Fr. John Fernandez. Pada awalnya keshogunan dan pemerintah imperial Jepang mendukung misi Katolik, namun setelah memandang Katolik sebagai ancaman, pemerintahan mulai menyiksa kaum kristen, memulai eksekusi terhadap 26 pastor dan orang awam pada 5 Februari 1597 atas perintah Hideyoshi Toyotomi. Ke 26 martir kemudian dimasukkan dalam daftar orang suci pada tahun 1862 oleh Paus Pius IX. Selama ratusan tahun setelahnya, pemahat terkenal Yasutake Funakoshi mendirikan monumen granit dan perunggu untuk mengenang mereka.

Pada Minggu Perak 2015, ketika saya mengunjungi Kyushu Utara dan Monumen 26 Martir dan Museum, Saya datang ke Nagasaki tanpa mengetahui mengapa ada gereja seperti Gereja St. Philip di Nagasaki. Dua jam setelah membaca setiap dokumen dan barang peninggalan pada museum saya menyadari betapa hebatnya iman para martir tersebut menghadapi berbagai penganiayaan. Santo Paul Miki bahkan terlihat memberitakan firman Tuhan ketika dibakar sampai mati. Mengerikan, gagah berani, menghatui, dan merendahkan hati. Kisah-kisah tentang penyiksaan karena iman sudah muncul sepanjang sejarah; beberapa melawan Kristen, dan lainnya disebabkan atau dianiaya oleh Kristen. Namun tidak ada di antaranya yang mempengaruhi saya melebihi dari tempat ini. Mungkin karena kisah ini terjadi dekat dengan rumah saya, yaitu Jepang dan kampung halaman saya, Filipina.

Kunjungan saya ke Monumen 26 Martir membuat saya sadar bahwa iman yang diberikan pada saya adalah sebuah pemberian, berkat luar biasa yang tidak perlu saya perjuangkan dengan darah, namun tetap harus saya hargai. 

Apakah artikel ini bermanfaat?

Rekomendasikan perubahan

0
0
Evelyne Sastaviyana

Evelyne Sastaviyana @evelyne.sastaviyana

Artikel asli oleh Maria Wilhelmina Domingo