Selain akomodasi, biaya makan merupakan hal yang esensial dalam hal traveling. Apa lagi kalau jalan-jalan ke negara seperti Jepang yang terkenal sebagai salah satu negara termahal di dunia. Nah  gimana caranya menyiasati biaya makan yang bikin kantong kempes? Selama lima minggu di Jepang, saya menemui beberapa cara untuk mengakali biaya makan agar tidak menguras dompet.

Masak dan Main ke Supermarket

Cara ini tergolong efektif jika memang kamu tinggal di tempat teman atau hostel yang memiliki dapur. Saya sempat menemui hostel yang memiliki dapur, seperti di Khaosan Theater di Kyoto atau Khaosan Kyoto Backpacker. Saya juga sempat masak ketika menumpang di rumah teman di Tokyo. Serunya adalah ketika kita berbelanja bahan makanan di supermarket. Hampir semua bahan masakan dapat ditemui di supermarket. Hati-hati tergiur dengan buah-buahan yang segar, sayuran hijau, seafood, dan berbagai makanan aneh yang menggoda untuk dicoba. Bukan masalah beracun atau tak baik untuk kesehatan, justru saking tergodanya saya malah pernah over budget. Jadi, sebenarnya kita harus sudah tahu betul mau masak apa atau membatasi budget.

Di supermarket juga banyak jenis nasi yang siap dipanaskan. Biasanya satu porsi nasi seharga 200-300 yen untuk porsi 2-3 orang. Saya juga pernah hanya membeli telur ¼ kg untuk persediaan makan selama 4 hari. Jadi cukup membuat telur dadar atau dicampur nasi dan bumbu nasi goreng yang dibawa dari Indonesia. Selain itu, kalau kamu main ke supermarket, bisa menjumpai berbagai macam lauk seperi ikan goreng, ayam goreng, gorengan semacam bakwan, dan banyak lagi. Rata-rata harganya 99 yen sampai 300 yen.

Rice-bowl Restaurant

Dulu, jauh sebelum ada keinginan pergi ke Jepang, saya mendengar sebuah tips dari seorang teman soal mencari makan murah di Jepang. Dia menyarankan untuk membeli onigiri di konbini (seperti 7-11 atau Lawson). Ternyata cara ini menurut saya kurang efektif. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jepang, tengah malam, perut saya keroncongan karena belum makan malam. Akhirnya saya ke konbini dan membeli onigiri. Harganya berkisar antara 100-300 yen, tergantung isi onigiri itu. Kalau beli satu enggak kenyang, beli dua kok mahal ya? Belum minumnya sendiri 99 yen. Alhasil teman saya menyarankan untuk mencari kedai makan rice-bowl seperti Sukiya, Yoshinoya, atau Matsuya.

Pertama kali saya menemui Sukiya ketika jalan-jalan di Kobe. Jadi mereka menjual beberapa menu salah satunya chicken rice bowl. Berhubung saya tidak makan babi dan curiga dengan kejelasan kata beef, akhirnya saya memilih opsi aman, yaitu daging ayam. Harganya bervariasi tergantung jenis makanan dan besar mangkuknya. Untuk chicken rice bowl yang kecil harganya 380 yen dan yang besar 480 yen. Ada menu tambahan seperti salad dan telur. Untuk minum, kita disediakan minum ocha dingin gratis dan bisa refill sesuka hati. Kalau kamu gak tahu malu, bisa tuh isi ulang tempat minum di sana.

Vending machine soba dan udon

Jepang memang negara yang gila. Hampir semua barang bisa dibeli di vending machine. Mulai dari minuman, tiket masuk museum, hingga mobil. Tak terkecuali untuk membeli mie rebus pun kita bisa membelinya di vending machine. Awalnya juga saya salah kaprah, saya berpikir “oh jadi nanti di vending machinenya keluar mangkok berisi mie rebus hangat gitu?” Jadi ternyata kita hanya memilih menu dan membayarnya saja di vending machine. Nantinya kita tukarkan karcis yang keluar dari vending machine itu ke pelayan restorannya.

Biasanya vending machine soba dan udon ini banyak tersedia di stasiun. Ya maklumlah, para salary man kan super sibuk. Mereka tidak sempat duduk anteng di restoran pas jam makan siang. Bahkan sering kali, kedai soba dan udon ini tidak menyediakan tempat duduk, melainkan makan sambil berdiri.

Jadi apa sih soba dan apa itu udon? Keduanya adalah nama dari jenis mie. Kesukaan saya adalah soba. Mie soba ini memiliki tekstur yang lebih berserat dan kasar ketimbang udon. Ukuran soba juga lebih tipis ketimbang udon. Kalau ditanya lebih kenyang mana, teman saya, Saras, merekomendasikan soba. Tapi benar juga sih, menurut saya soba lebih cepat kenyang dan tahan lama ketimbang udon. Oh iya, bagi yang memperhatikan kehalalan sebuah makanan, udon dan soba ini tergolong aman karena menggunakan kaldu ikan. Beda halnya dengan ramen yang menggunakan kaldu babi. Meskipun begitu, saya tidak bisa memastikan kehalalan makanan ini.

Mau yang Gratis? Nyemil di Toko Souvenir!

Menurut saya ini yang paling epik! Penemuan ini saya dapatkan ketika sedang bangkrut di Kyoto. Malam itu saya sedang jalan-jalan di Sannenzaka-Nannenzaka dekat Kiyomizudera. Tak begitu ramai karena malam sabtu, padahal ada acara khusus di kuil Kiyomizudera, yaitu illumination. Kanan dan kiri jalan ini tuh dipadati oleh toko souvenir. Kebanyakan menjual makanan ringan atau cemilan. Tak sengaja, di depan toko ada yang menjajahkan ocha gratis, kemudian saya disuruh masuk. Ya udah, jadi saya nyemilin tester-tester di sana ditemani ocha hangat gratis. Ini kok rasanya kayak mukjizat di malam dingin di bulan Desember, ya? Setelah bosan dengan cemilan di satu toko, saya bergerak ke toko lainnya, begitu terus sampai saya kenyang. Satu triknya sih, muka tembok aja dan pasang tampang seolah-olah minat untuk beli. Kalau sempat berbasa-basilah dengan menanyakan hal-hal simpel.

100 Yen Store

Toko 100 yen ini biasanya banyak tersebar di kota-kota besar. Saya seringnya belanja di Lawson 100. Kalau biasanya membeli susu kotak 1 liter itu bisa sampai 200 yen, di toko ini kita bisa mendapatkan susu atau greentea latte hanya 105 yen. Begitu juga dengan roti dan cemilan lainnya. Jadi menurut saya toko 100 yen ini bisa menjadi alternatif untuk nyemil atau mencari makanan pengganjal perut yang murah. Pokoknya uang di bawah 100 yen itu tidak ada artinya di Jepang, jadi ketika menemukan toko yang semua harganya hanya 100 yen itu terasa seperti surga. Kadang toko ini juga bisa bikin boros, saking merasa harganya murah semua, sering kali saya kalap beli jajanan. Tau-tau malah abis 1000 yen.

Jadi tak ada alasan untuk takut ke Jepang karena alasan mahal. Ada berbagai macam cara untuk bisa menghemat budget. Saran saya sih, kalau memang memiliki budgetyang terbatas, bisa mengikuti cara-cara di atas. Menghemat makan selama beberapa hari untuk kemudian bisa makan mewah di malam terakhir, misalnya. Bagaimanapun Jepang memiliki beragam kuliner yang wajib untuk dinikmati, misalnya sushi, sashimi, dan beragam makanan yang hanya terdapat di restoran yang harganya tak wajar bagi kita yang tinggal di Indonesia. Jadi, lebih baik simpan yang terbaik untuk di akhir, bukan?